Monday, 6 May 2013

PENGGADAAN DOKUMEN DAN MENGELOLA SISTEM KEARSIPAN


PENGGADAAN DOKUMEN DAN MENGELOLA SISTEM KEARSIPAN

Latar Belakang

Setiap individu maupun dokumen selalu berharap bahwa apa yang ada dan terjadi dalam kehidupannya dapat diingat. Selain itu manusia juga berharap agar kelak memori atau perihal yang penting dapat dibuka kembali sebagai sejarah, salah satunya berbentuk dokumen. Dokumen merupakan hal yang penting bagi sebuah individu atau sebuah institusi. Dokumen biasanya berbentuk surat yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan. Misalnya seperti akta lahir, surat nikah, dan surat perjanjian. Dokumen sendiri dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tertulis yang tercetak yang dapat digunakan untuk bukti atau keterangan. Perusahaan apapun bentuknya, baik itu perusahaan besar atau kecil, baik itu lembaga pemerintah maupun swasta, tidak lepas dari suatu kegiatan yang disebut dengan kegiatan penggandaan. Terbukti kegiatan penggandaan dokumen, mampu memperlancar kegiatan suatu kantor, serta mempermudah penyampaian informasi, misalnya : Materi rapat dapat dicetak sebanyak peserta rapat. Arti penggandaan dokumen sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berati proses, cara, perbuatan menggandakan. Penggandaan juga bisa diartikan sebagai usaha memperbanyak atau melipatkan beberapa kali dokumen. Suatu perbuatan menggandakan atau memperbanyak dokumen sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan alat penggandaan sehingga diperoleh hasil yang sama dengan dokumen aslinya. Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kegiatan yang merupakan kegiatan penggandaan, baik itu penggandann dokumen tertulis maupun penggandaan dokumen tidak tertulis. Agar kita dapat mengetahui berbagai cara yang dapat digunakan untuk menggandakan dokumen dan berbagai alat untuk menggandakan dokumen sesuai dengan jenis dokumennya, maka kita perlu mengetahui berbagai jenis dokumen.
Dalam kegiatan organisasi tak lepas dari surat-menyurat dan dokumen sebagai pendukung vital pelaksanaan tugas, baik yang diciptakan maupun yang diterima. Surat dan dokumen yang disebut arsip tersebut merupakan bahan kerja dalam rangka pencapaian tujuan. Tetapi sampai saat ini masih ada atau bahkan banyak yang kurang perhatian terhadap masalah arsip. Bertumpuknya surat dan dokumen di atas meja kerja dan sekitarnya menjadi pemandangan di sebagian perkantoran, kekhawatiran akan hilangnya surat dan rasa sayang untuk memusnahkan surat , menjadi penyebab menumpuknya surat di atas meja. Kondisi ini menyebabkan kantor menjadi terlihat kotor dan berantakan. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian dan pengetahuan terhadap permasalahan arsip. Jika berkas tersebut dibiarkan, maka akan menimbulkan permasalahan baru; akan diapakan berkas tersebut. dan bahkan akan kesulitan dalam pencarian surat dan dokumen yang diperlukan, dan yang lebih berbahaya lagi hilangnya surat dan dokumen penting. Padahal jika kita menyadari pentingnya arsip, maka kita akan memperlakukan dan menyimpan arsip dengan baik, sehingga permasalahan di atas bisa kita hindari. Kesadaran akan pentingnya arsip harus dimiliki oleh semua karyawan baik atasan maupun bawahan. Sebelum kita melangkah lebih jauh tentang arsip, akan lebih baik jika kita terlebih dahulu mengetahui apa itu arsip. Arsip adalah naskah-naskah yang dibuat atau diterima oleh lembaga-lembaga Negara dan badan-badan pemerintah/swasta ataupun perorangan dalam bentuk dan corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan (UU No. 7 Tahun 1971).
Pengertian arsip juga berdasarkan kepada penciptanya apakah instansi pemerintah, swasta, atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap arsip yang diciptakan, digunakan, dan dipelihara, serta dipergunakan untuk kepentingan pelaksanaan tugas. Dari pengertian di atas arsip itu dapat berbentuk kertas (surat-surat, dokumen-dokumen) ataupun non kertas (gambar, video) yang dipergunakan untuk pelaksanaan kehidupan kebangsaan dan pelaksanaan tugas baik dilakukan oleh lembaga pemerintah, swasta, maupun perorangan. Mengingat betapa pentingnya arsip, maka untuk menghindari permasalahan-permasalahan seperti yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya adalah memahami arsip. Dari penjelasan di atas tentang arsip, maka naskah-naskah dalam bentuk kertas maupun non-kertas yang dikirim maupun yang diterima adalah arsip. Jika demikian apakah berarti semua surat yang kita terima atau kita kirim itu harus kita kategorikan sebagai arsip, dan harus kita simpan? Bila kita menyimpan seluruh dokumen tersebut, maka lama-lama meja dan tempat disekitar kita akan penuh dengan tumpukan kertas, dan setelahnya kita akan bingung mau diapakan berkas-berkas tersebut. Oleh karena diperlukan pengaturan yang sistematis dan serius mengenai pengelolaan arsip
Rumusan Masalah
1.      Apa saja alat untuk menggandakan dokumen?
Tujuan
1.      Untuk mengetahui alat untuk menggandaan  dokumen
Pembahasan

Penggandan naskah merupakan pekerjaan yang penting dalam kegiatan kantor-kantor modern. Hampir setiap naskah selalu dibuat rangkap, untuk itu perlu alat pengganda.

Memilih Mesin Pengganda

Untuk memilih alat/mesin yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas ada 2 (dua) hal yang harus diperhatikan atau diperhitungkan, yaitu : 1) cosh efisien, biaya yang diperlukan tidak terlalu mahal tetapi harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan 2) proses efisiensi, proses penyelesaian tugas tidak terlalu lama melainkan harus sesuai dengan volume pekerjaan itu. Dengan 2 (dua) hal tersebut barulah dapat memilih alat/mesin yang diperlukan.
Pekerjaan yang memerlukan alat/mesin pengganda harus mengacu kepada dua hal tersebut diatas karena jumlah alat/mesin pengganda cukup banyak, yaitu mesin pengganda berupa alat/mesin Stensil Duplicator, Spirit Duplicator, Mini Offset, Fotho copy, Risograph, Scanner, Printer, Mesin Tik Manual.
Agar suatu unit atau instansi memperoleh barang perlu proses kegiatan yang disebut pengadaan. Pengadaan semua perlengkapan kantor termasuk mesin-mesin pengganda adalah tanggung jawab bagian perlengkapan atau bagian logistik. Untuk mengajukan permintaan alat kantor tidak dapat diproses secara cepat karena melalui jalur birokrasi. Oleh karena itu, sekretaris atau bagian yang membutuhkan perlengkapan kantor sebelum peralatan habis sama sekali harus mengajukan permintaan perlengkapan kantor.
Tugas bagian perlengkapan/ logistik lainnya adalah melayani perbaikan perabot yang rusak. Tugas layanan perbaikan tidak semuanya ditangani langsung bagian perlengkapan, tetapi mengadakan kerjasama dengan perusahaan layanan jasa. Contoh bentuk layanan jasa antara lain mesin tik, AC, loundry (pencucian), karpet kotor.
Untuk mendapatkan mesin pengganda yang juga bagian dari perlengkapan kantor perlu langkah – langkah sebagai berikut:
1. Sekretaris/ pejabat yang berwenang memeriksa perlengkapan yang dibutuhkan.
2.    Mengisi formulir perlengkapan.
3.    Formulir permintaan alat-alat/ perlengkapan kantor sudah harus dimasukkan ke bagian perlengkapan beberapa hari sbelum waktu pembagian.
4.    Permintaan tersebut harus disetujui dahulu oleh petugas yang berwenang.
5.    Setelah disetujui, formulir diserahkan pada bagian perlengkapan.
6.   Pada hari pembagian, pegawai bagian perlengkapan akan mempersiapkan semua permintaan dan memberitahukan kepada semua pemesan.
7. Setelah menerima perlengkapan, sekretaris menandatangani formulir penerimaan dari bagian perlengkapan.
8.   Bilamana suatu permintaan belum dapat dipenuhi, maka hal tersebut dicatat dalam kolom ”keterangan” disamping mencantumkan tanggal yang mana kira-kira permintaan ini dipenuhi.
Bagi petugas yang bertalian dengan penerimaan dan pengolahan barang yang dimiliki kantornya bertanggungjawab untuk memelihara dan mengamankan barang dari ancaman yang tidak dikehendaki oleh organisasinya,oleh karenanya perlu diinventaris.
                  Seorang petugas urusan perlengkapan diwajibkansecara berkala untuk melaporrkan barang-barang yang diterima dan dikeluarkan serta hal ikhwal yang terjadi dalam gudang, misalnya tentang kerusakaan, kehilangan. Laporan tersebut selanjutnya disampaikan kepada orang yang telah ditunjuk berdasarkan ketentuan-ketentuannya.
                  Untuk melaporkan tentang barang tersebut, harus diadakan stock opname barang. Pelaksanaan stock opname tersebut dilakukan pada saat-saat berikut.
  1. Pada akhir tahun atau dalam waktu yang telah ditentukan ( minimal setahun sekali )
  2. Bila ada pergantian petugas urusan perlengkapan
  3. Bila terjadi malapetaka
  4. Bila ada kekosongan pada tempat-tempat penyampaian barang.
                  Tujuan dilakukan stock opname adalah unuk mengadakan perhitungan persediaan barang-barang keperluan kantor, agar dapat diketahui sisa yang sebenarnya sebagai dasar pengurusan berikutnya.
                  Pekerjaan selanjutnya adalah mencatat segala macam barang inventaris dan buku golongan barang inventaris.
      Buku barang inventaris merupakan buku tempat mencatat segala macam barang inventaris yang sudah/ pernah dimiliki/ diurus oleh satuan organisasi yang sekaligus merupakan sumber informasi yang diandalkan mengenai segala macam data yang diperlukan tentang barang-barang inventaris tersebut. Sedangkan buku golongan barang inventaris merupakan tempat mencatat barang inventaris menurut golongan yang telah ditentukan tersebut. Pengisiannya dilakukan setelah pencatatan barang tersebut ke dalam buku barang inventaris.


A. Macam-Macam Mesin Pengganda
1.      Mesin Sheet Stensil Duplikator

         Mesin Sheet Stensil Duplikator adalah alat/mesin yang digunakan untuk menggandakan/memperbanyak dokumen dalam jumlah yang cukup besar dengan mutu yang memadai dan dalam waktu relatif singkat.

2.      Mesin Fotocopy
Mesin fotokopi  (copier) adalah mesin penyalin langsung dengan sistem
penyinaran sehingga diperoleh salinan sma dengan aslinya. Dilihat dari bentuk dan kemampuannya, mesin fotokopi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1.Mesin fotokopi kecil (portable)
Bentuknya kecil bahkan ada aygn dapat dibawa seperti koper. Kecepatan menyalin 5-10 lembar permenit pada ukuran kertas maksimal A4(210x364 mm).
2.   Mesin fotokopi sedang(standart)
Bentuknya lebih besa seperti yang dapat dilihat sehari-hari. Berat mesin dibawah 70 kg. Kecepatan menyalin 15-25 lembar permenit pada ukuran kertas A3 (297x420 mm) dan B4 (257x364 mm).
3.   Mesin fotokopi besar
Bentuknya besar dan beratnya ditas 70 kg. Kecepatan menyalin inimal 30 lembar permenit. Dapat memperbesar dan memperkecil, dapat mengkopi pada original berwarna. Dilengkapi dengan alat sortir otomatis, papan dokumen otomatis dan lain-lain.
Ciri-ciri :
1.      digerakkan dengan tenaga listrik dengan cara kerja dan kompoinen elektronik.
2.      Mengkopi dengan penyinaran scaner berjalan(original tetap).
3.      Mengkopi pada kertas HVS (60-120 gr)
Dapat memperbesar atau memperkecil hasil kopian dan originalnya

3.      Mesin Risograph atau Priport
Risograph adalah istilah untuk produk mesin pengganda yang dikeluarkan oleh Gesttner, sedangkan Priport adalah produk dari Ricoh.
Risograph/priport adalah mesin pembuat copy (copier) untuk jumlah besar dengan menggunakn master. Bentuk dan cara kerjanya seperti mesin fotaocopy biasa, berkemampuan sampai 120 lembar permenit, dapat mengkopi kertas tipis 46 grm – 210 grm dengan menggunakn master khusus yang dibuat pada mesin itu juga secara elektornik. Dapat memperbesar/memperkecil, menggabung 2 original dan tintanya dapat diganti warna menurut selera (biru, hitam, coklat, merah, hijau) Mesin ini sangat efisien untuk mengganda naskah dalam jumlah besar dan bertenaga listrik yang diperlukan kurang dari 500 watt.


Monday, 8 April 2013

Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)


Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)

Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.

Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:
Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton
Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.
Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.

Sembah Cipta  ( Kalbu )
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 dan Pupuh Gambuh bait 11 berikut :
Samengkon sembah kalbu / yen lumintu uga dadi laku / laku agung kang kagungan narapati / patitis teteking kawruh / meruhi marang kang momong.
Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan di dalam hati, kalbu berarti hati , maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat.
Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah.
Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa.
Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina.
Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi dan Shiddiqin.
Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma ( Allah ) dengan mengutamakan peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur / Sembah katri kang sayekti katur / Mring Hyang Sukma suksmanen saari-ari / Arahen dipun kecakup / Sembahing jiwa sutengong
Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu, sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalanan hidup batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi.
Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini, tampak dengan jelas pada bait berikut :
Sayekti luwih perlu / ingaranan pepuntoning laku / Kalakuan kang tumrap bangsaning batin / Sucine lan awas emut / Mring alaming lama amota.
Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
"Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono."

Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur / gantya sembah lingkang kaping catur / sembah rasa karasa wosing dumadi / dadi wus tanpa tuduh / mung kalawan kasing batos.
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini, seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah rasa.
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki / ing rar=’]asantang keneng rinasa / tan kena ginurokake / yeku yayi dan rampung / eneng onengira kang ening / sungapan ing lautan / tanpa tepinipun / pelayaran ing kesidan / aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.


LEVEL OF THE PSYCHE JUNG



LEVEL OF THE PSYCHE JUNG
  • Conscious (Ego)
            Conscious adalah sesuatu yang dimengerti oleh ego, dimana elemen unconscious tidak berhubungan dengan ego. Pengertian Jung tentang ego lebih terbatas dari pada Freud. Jung melihat ego sebagai pusat dari consciousness, tetapi bukan inti dari kepribadian. Ego harus dilengkapi oleh self yang lebih komprehensif. Self adalah pusat kepribadian yang sebagian besar terletak di unconscious. Pada orang yang secara psikologis sehat, ego mengambil posisi sekunder terhadap unconscious self. Jadi, consciousness (kesadaran) memainkan peran yang relatif kecil dalam psikologi analtikal, dan penekanan yang berlebihan terhadap perluasan psike di conscious dapat mengarah kpd ketidakseimbangan psikologis. Individuation dapat dicapai bila individu mampu berhubungan dengan  conscious & unconscious.
  • Personal Unconscious
            Personal unconscious mencakup semua pengalaman yang direpresi, dilupakan, atau dipersepsi secara subliminal oleh individu. Personal unconscious dibentuk oleh pengalaman individual sehingga unik bagi masing-masing individu.
            Beberapa gambaran dalam personal unconscious dapat diingat secara mudah, beberapa sulit untuk diingat, dan beberapa jauh di bawah jangkauan kesadaran. 
            Isi dari personal unconscious disebut complexes. Complex adalah suatu pencampuran sifat emosional dari ide-ide yang saling berkaitan.
            Contoh: pengalaman pribadi dengan ibu akan menjadi dikelompokkan di sekeliling inti emosional, sehingga ibu atau kata “ibu” akan menimbulkan respon emosional tertentu.
  • Collective Unconscious
            Collective unconscious berakar dari masa lalu nenek moyang dari keseluruhan spesies.
            Isi fisikal dari collective unconscious diwarisi dan didapat dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai potensi psikis. Pengalaman-pengalaman nenek moyang masa lalu dengan konsep universal seperti Tuhan, ibu, air, bumi, dan lain-lain telah diteruskan melalui generasi-generasi sehingga orang-orang dari tiap iklim dan waktu dipengaruhi oleh pengalaman primordial (purba) nenek moyang primitif. Itu sebabnya, isi dari collective unconscious kurang lebih sama untuk tiap orang di semua budaya.
             Isi dari collective unconscious bersifat aktif dan mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan seseorang.
            Collective unconscious juga menghasilkan “big dreams”, mimpi yang memiliki arti di luar pengetahuan pemimpinya dan diisi dengan sesuatu berarti untuk orang dari setiap waktu dan tempat.
            Collective unconscious tidak mengacu pada ide-ide yang diwariskan tetapi lebih pada kecenderungan dalam diri manusia untuk bereaksi dalam cara tertentu kapanpun pengalaman mereka menstimulasi respon warisan biologis.
            Manusia seperti juga hewan, datang ke dunia dengan predisposisi yang diturunkan untuk beraksi atau bereaksi dalam cara tertentu jika pengalaman mereka bersentuhan pada predisposisi biologis. Contohnya, pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama akan terkejut & bingung oleh reaksi mereka sendiri. Orang yang dicintainya mungkin tidak mirip dengan wanita ideal yang diharapkannya, tetapi sesuatu dalam dirinya menggerakkan dirinya untuk tertarik pada wanita tersebut.
Archetype
•         Archetypes adalah gambaran/image kuno yang diperoleh dari collective unconscious.
•         Archetype seharusnya dipisahkan dari insting. Jung mendefinisikan insting sebagai impuls fisik yang tidak disadari melalui aksi dan archetype sebagai psychic counterpart dari insting.
•         Archetype memiliki dasar biologis, terbentuk melalui pengulangan pengalaman nenek moyang awal manusia. Potensi archetype yang tak terhitung jumlahnya ada dalam diri tiap orang, dan ketika pengalaman seseorang berkenaan dengan gambaran latent primordial (purba terpendam), archetype akan teraktivasi.
•         Archetype itu sendiri tidak dapat ditampilkan secara langsung, tetapi ketika teraktivasi, akan terlihat melalui beberapa modus, mimpi, fantasi, dan delusi.
•         Mimpi adalah sumber utama dari materi archetypal, dan mimpi-mimpi tertentu menunjukkan apa yang Jung pertimbangkan sebagai bukti dari keberadaan archetype. Mimpi ini memproduksi motif-motif yang tidak diketahui oleh pemimpinya melalui pengalaman personal.
•         Freud juga percaya bahwa setiap orang secara kolektif mewarisi predisposisi untuk bertindak (phylogenetic endowment) namun konsepnya ini berbeda dengan Jung.
•         Ada banyak jumlah archetypes sebagai image/gambaran yang tidak jelas, dan hanya beberapa yang dapat dikonsepkan. Yang paling terkenal adalah persona, shadow, anima, animus, great mother, wise old man, hero, dan self.
Persona
•         Sisi kepribadian yang diperlihatkan pada dunia disebut sebagai persona - topeng yang dipakai aktor-aktor di teater awal. 
•         Jung percaya bahwa setiap orang harus memproyeksikan peran tertentu, yaitu peran yang diharapkan oleh komunitas pada setiap orang.
            Cth :Seorang dokter diharapkan untuk memiliki karakteristik ”bedside manner“ (cara berbicara dengan pasien). Seorang politisi harus menunjukkan wajah yang dapat memenangkan kepercayaan dan suara dari komunitas. Seorang aktor menampilkan gaya hidup yang diharapkan dari masyarakat.
•         Meskipun persona adalah sisi penting dari kepribadian, kita seharusnya tidak bingung antara ’wajah’ yang ditampilkan ke publik dengan keseluruhan self / kepribadian kita.
•         Jika kita mengidentifikasi terlalu dekat dengan persona, kita akan tetap unconscious pada individualitas kita dan terhambat dalam pencapaian self-realization. Kita harus menyatakan diri pada komunitas, tetapi jika kita terlalu mengidentifikasi dengan persona kita, kita akan kehilangan kedekatan dengan inner self dan tetap tergantung pada harapan komunitas terhadap kita.
Shadow
•         Shadow adalah archetype kegelapan dan represi. Shadow menunjukkan kualitas-kualitas yang tidak ingin kita kenali , disembunyikan baik dari diri maupun orang lain. Shadow berisi kecenderungan-kecenderungan  yang ditolak secara moral, juga sejumlah kualitas konstruktif dan kreatif  yang takut kita hadapi.
•         Mengenal shadow adalah tes pertama bagi keberanian kita.
•         Akan lebih mudah bagi kita untuk memproyeksikan sisi hitam dari kepribadian kita pada orang lain, melihat kejelekan dari orang lain, yang kita hindari untuk melihatnya dalam diri kita. Bila kita mampu menyadari kegelapan dalam diri kita maka kita mencapai ”realization of the shadow”.
Anima
•         Sama seperti Freud, Jung percaya bahwa semua manusia secara psikologis adalah biseksual dan menunjukkan sisi maskulin dan feminin.
•         Sisi feminin dari pria berasal dari collective unconscious sebagai archetype dan sangat resistan dari kesadaran. Hanya sebagian kecil pria mampu mengenal anima mereka karena tugas ini membutuhkan keberanian yang lebih besar dan juga lebih sulit dibandingkan mengenal shadow mereka. Untuk mampu memproyeksikan anima, pria harus mengatasi rintangan intelektual, menyelidiki jauh ke dalam unconscious mereka, dan menyadari sisi feminin dari kepribadiannya.
•         Jung percaya bahwa anima berasal dari pengalaman pria-pria masa lalu dengan wanita – ibu, saudara perempuan, dan kekasih – yang bergabung membentuk gambaran umum tentang wanita. Konsep global ini menjadi melekat dalam collective unconscious dari semua pria sebagai anima archetype.
•         Pria cenderung memproyeksikan animanya pada istri atau kekasihnya. Pria cenderung tidak melihat istri atau kekasihnya sebagai apa adanya mereka, tetapi sudah dipengaruhi gambaran personal unconscious dan collective unconscious yang dimilikinya.
•         Anima dapat menjadi sumber terjadinya kesalahpahaman hubungan pria-wanita, tetapi ini juga merupakan psyche pria yang bertanggung jawab untuk memikat wanita.   
•         Seorang pria dapat bermimpi tentang seorang wanita dengan image dan identitas yang tidak nyata. Wanita tersebut tidaklah menunjukkan seseorang dari pengalaman personalnya, tetapi memasuki mimpinya dari kedalaman collective unconsciousnya.
•         Anima tidak harus muncul dalam mimpi dengan wujud wanita, tetapi dapat berupa perasaan dan mood.
•         Jadi, anima mempengaruhi perasaan pria dan inilah penjelasan terhadap beberapa mood dan perasaan irasional yang dimiliki pria.
•         Seorang pria dapat bermimpi tentang seorang wanita dengan image dan identitas yang tidak nyata. Wanita tersebut tidaklah menunjukkan seseorang dari pengalaman personalnya, tetapi memasuki mimpinya dari kedalaman collective unconsciousnya.
•         Anima tidak harus muncul dalam mimpi dengan wujud wanita, tetapi dapat berupa perasaan dan mood.
•         Jadi, anima mempengaruhi perasaan pria dan inilah penjelasan terhadap beberapa mood dan perasaan irasional yang dimiliki pria.
Animus
•         Archetype maskulin pada wanita disebut animus. Dibandingkan anima yang menampilkan mood dan perasaan yang irasional, animus adalah symbol dari pemikiran dan penjelasan logis.
•         Animus adalah milik collective unconscious dan berasal dari pertemuan wanita jaman prasejarah dengan pria. Dalam hubungan pria-wanita. wanita akan memproyeksikan pengalaman nenek moyangnya dalam berhubungan dengan ayah, saudara laki-laki, kekasih, dan anak laki-laki, pada pria yang tidak diduga.
•         Jung percaya bahwa animus bertanggung jawab untuk pemikiran dan opini pada wanita,
•         Banyak opini dari wanita yang secara objektif valid, tetapi berdasarkan Jung, opini tersebut tidak keluar dari pikiran tapi telah ada dan sudah terbentuk.
•         Jika seorang wanita didominasi oleh animusnya, tidak ada penjelasan logis atau emosional dapat menggoyahkannya dari keyakinannya.
Great Mother
•         Archetype great mother dan the wise old man adalah jiplakan/bentukan dari anima dan animus.
•         Setiap orang, pria dan wanita, memiliki archetype great mother.
•         Great mother menampilkan dua kekuatan – fertilitas dan pemenuhan makanan di salah satu sisi; kekuatan dan penghancur di sisi lainnya. Ia dapat menghasilkan dan mempertahankan kehidupan (fertility dan nourishment), tetapi ia juga melahap atau mengabaikan keturunannya (penghancur).
•         Dimensi fertilitas dan pemenuhan makanan pada archetype great mother disimbolkan dengan pohon, taman, plowed field, laut, surga, rumah, negara, gereja, dan hollow object seperti oven dan alat memasak.
            Sisi kekuatan dan penghancur, disimbolkan sebagai godmother (ibu peri), the Mother of the God, Mother Nature (dunia tempat makhluk hidup berasal), Mother Earth (tempat hidupnya makhluk hidup), ibu tiri, atau nenek sihir.
Wise Old Man (Orang Bijak)
•         Wise old mand adalah archetype kebijaksanaan dan keberartian, menyimbolkan pengetahuan keberadaan awal manusia tentang misteri kehidupan.
•         Pria atau wanita yang didominasi oleh archetype wise old man akan mampu mengumpulkan banyak pengikut dengan menggunakan kata-kata tak berguna tapi terdengar mendalam / berarti.
•         Wise old man digambarkan di mimpi sebagai ayah, kakek, guru, ahli filsafat, dokter, atau pendeta. Ia muncul dalam dongeng sebagai raja, orang bijaksana / guru, atau ahli sulap yang membantu mengatasi masalah dari protagonis, dan melalui kebijaksanaannya, ia mampu menolong protagonis dari berbagai macam petualangan.
Hero
•         Archetype hero ditampilkan dalam mitologi dan legenda sebagai orang yang penuh kekuatan, dan terkadang adalah seorang dewa, yang berperang melawan orang jahat atau menaklukkan iblis/kejahatan dalam bentuk naga, monster, ular, atau iblis. Pada akhirnya, hero seringkali tidak berhasil menyelesaikan tugasnya karena orang atau kejadian yang kurang mendukung.
•         Image atau gambaran hero menyentuh archetype dalam diri kita, yang terlihat pada kekaguman kita dengan hero di film, novel, drama, dan program televisi. Ketika hero menaklukkan kejahatan, ia membebaskan kita dari perasaan tidak berdaya dan misteri; pada waktu yang sama hero juga menjadi model dari kepribadian yang ideal.

Self
•         Jung percaya bahwa setiap orang memiliki kecenderungan bawaan untuk bergerak menuju pertumbuhan, kesempurnaan, dan kelengkapan, dan ia menyebut disposisi ini sebagai self.
•         Self adalah archetype yang paling komprehensif, archetype dari archetype-archetype lain, karena self menarik semua archetype lain bersama dan menyatukan mereka dalam proses self-realization.
•         Self disimbolkan dalam ide seseorang tentang kesempurnaan, kelengkapan, dan kepenuhan; tetapi simbol utamanya adalah mandala, yang digambarkan sebagai lingkaran dalam kotak, kotak dalam lingkaran, atau figure konsentris lainnya. Mandala menunjukkan usaha dari collective unconscious untuk kesatuan, keseimbangan, dan kepenuhan.
•         Pada gambar, consciousness (ego) ditampilkan pada lingkaran luar dan hanya memiliki bagian kecil dari total kepribadian; personal unconscious digambarkan di lingkaran tengah; collective unconscious ditunjukkan di lingkaran lebih dalam; dan totalitas dari ketiga lingkaran menyimbolkan self.
•         Hanya 4 archetype – persona, shadow, anima dan animus – tergambar di mandala, yang masing-masing digambarkan dalam ukuran yang sama dan memiliki ketiga level psike.
•         Pada kebanyakan orang, Persona lebih conscious dibandingkan shadow, dan shadow lebih mudah dicapai ke kesadaran dibandingkan anima dan animus.
•         Keseimbangan  yang ditunjukkan dalam gambar antara kesadaran dan total self bersifat ideal.
•         Self hampir tidak pernah seimbang secara sempurna, tapi setiap orang punya konsep di dalam collective unconsciousnya tentang kesempurnaan dan kesatuan self.
•         Mandala menyimbolkan self yang sempurna, archetype dari keteraturan, kesatuan, dan totalitas. Karena self-realization juga melibatkan kelengkapan dan kepenuhan, maka ia diartikan kesucian (divinity).
•         Dalam collective unconscious, self muncul sebagai kepribadian yang ideal, yang terkadang digambarkan dalam wujud Jesus Christ, Buddha, Khrisna, atau figur dewa lain.
•         Kesimpulannya, self terdiri dari pikiran conscious dan unconscious, dan menyatukan elemen-elemen yang berlawanan – laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, kekuatan terang dan gelap. Elemen yang berlawanan sering digambarkan dalam bentuk yang dan yin, dimana self digambarkan dalam bentuk mandala. Motif-motif ini kemudian bertahan untuk kesatuan, totalitas, dan keteraturan – yaitu pencapaian self-realization.



KEJAWEN - KAUTAMANING LAKU


KAUTAMANING LAKU

1. Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran.
2. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran.
3. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting urip kang utama.
4. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira.
5. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning jalma.
6. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung, panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan becik, ginantungan bebenduning Pangeran.
7. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang sinedya, den prayitna barang karya.
8. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi.
9. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala
10. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan nyulayani.
11. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe.
12. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik


KEJAWEN


Mari kita mengutip satu tembang Jawa

Tak uwisi gunem iki                    saya akhiri pembicaraan ini
Niyatku mung aweh wikan           saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan akeh lire                     kabatinan banyak macamnya
Lan gawat ka liwat-liwat             dan artinya sangat gawat
Mulo dipun prayitno                    maka itu berhati-hatilah
Ojo keliru pamilihmu                  Jangan kamu salah pilih
Lamun mardi kebatinan               kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua – (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan atau kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula dan Gusti ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik dan jujur, beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang melalui rasa hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, tidak perlu diragukan bahwasanya kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang mengandung nilai-nilai universal. Pandangan kejawen bisa memberikan sumbangan kepada perdamaian dan kemakmuran dunia. 


Tuesday, 2 April 2013

Jenang Kudus

JENANG KUDUS


http://www.promojateng-pemprovjateng.com

Datang ke Kudus belum lengkap rasanya jika tidak membawa jenang sebagai buah tangan dari daerah ini. Makanan legit berasa manis ini terbuat dari campuran bahan-bahan, seperti tepung beras ketan, gula, susu, mentega, vanili, serta perasa buah. Makanan ini cocok jika dijadikan sebagai buah tangan bagi keluarga, kerabat atau peziarah yang berkunjung ke Kudus. Terdapat beberapa merek terkenal jenang Kudus yang dapat anda temukan, seperti Jenang Mubarok, Jenang Viva, Jenang Sinar 33, Jenang Mabrur, Jenang Kenia, Jenang Asia Aminah, Jenang Menara, Jenang Karomah, Jenang Sinar Fadhil, Jenang Muncul, Jenang Garuda, Jenang Dua Keris, dan sebagainya
.
Bagi anda yang tertarik mengetahui proses pembuatan jenang, anda bisa datang ke salah satu produsen jenang di Kudus, yakni Jenang Menara juga menyediakan layanan kunjungan ke lokasi pembuatan jenang dari awal hingga proses pengepakan siap dipasarkan. Anda juga bisa mengetahui, proses pembuatan jenang di Kudus saat sekarang sudah lebih maju karena ditunjang dengan sejumlah peralatan modern dan prosesnya juga lebih higienis.

Soto Kudus

SOTO KUDUS


http://www.promojateng-pemprovjateng.com


Satu lagi makanan khas Kudus adalah soto. Makanan yang enak disantap saat masih panas ini berbeda dengan soto daerah lain. Soto Kudus terdiri atas dua macam, yaitu soto ayam dan soto kerbau, dengan kuah yang lebih kental karena kuahnya merupakan campuran rempah-rempah dengan santan kelapa dan rasanya juga lebih manis. Perbedaan dengan soto lainnya, terdapat campuran kunir, sehingga warnanya terlihat agak gelap dibanding soto lainnya.

Satai Kerbau

SATAI KERBAU


Kemudian satai kerbau yang cara pembuatannya berbeda dengan sate lainnya. Daging kerbau dipotong dan dicincang halus kemudian dilekatkan pada batang sate dengan diberi bumbu kecap, parutan kelapa, dan kacang. Rasanya seperti daging rendang.