Showing posts with label Manjat Gunung. Show all posts
Showing posts with label Manjat Gunung. Show all posts

Monday, 26 October 2015

GUNUNG LAWU PUNCAK HARGO DUMILAH 3265 MDPL



GUNUNG LAWU



Gunung Lawu merupakan salah satu gunung yang cukup terkenal di kalangan pendaki, khususnya daerah Jawa Tengah. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3265 mdpl, lumayan tinggi. Terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setengah di Kabupaten Karangayar dan setengahnya lagi di Magetan. Untuk mendaki ke sana, memiliki tiga jalur utama pendakian. Bisa ditempuh lewat jalur Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, atau bisa menggunakan rute Candi Cetho. Namun dari ketika trek tersebut, mungkin jalur Cemoro Sewu yang paling banyak digunakan. Pendakian tersebut kami lewat Cemoro Sewu.

Hari itu, saat libur kuliah kami rombongan sekitar 12 orang, 9 orang laki-laki dan 3 orang perempuan berangkat dari Kota Semarang. Kami menggunakan motor untuk sampai di sana. Perjalanan itu kami mulai sekitar pukul 9 pagi, dan baru sampai di Pos Pendakian Cemoro Sewu sekitar pukul 4 sore. Kami pun melakukan regristrasi terlebih dahulu sambil berbincang dengan penjaga pos. sekitar pukul 5 sore kami memulai pendikian. Perlu diketahui bahwa pendakian ini adalah pendakian pertama kami semua, tidak ada salah seorangpun yang pernah mendaki Gunung Lawu. Jalur pendakian Cemoro Sewu kami pilih secara tidak sengaja, kami hanya melihat plang pos pendakian Cemoro Sewu dan kami belok ke sana. Untuk pendakian jalur Cemoro Sewu merupakan jalur pendakian dengan trek susunan batu seperti anak tangga.

Baru sekitar satu jam kami tracking, kami memutuskan untuk berhenti dan mempersiapkan makanan sebelum keadaan benar-benar gelap. Hal itu kami lakukan karena udara di atas sangat dingin dan tidak baik jika perut dalam keadaan kosong. Sekitar setengah jam kami makan bersama di sebuah tempat berteduh (bukan pos satu). Kami akhirnya melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 9 malam kami baru sampai di sebuah gazebo yang sepertinya itu adalah pos 1 pendakian jalur Cemoro Sewu, kami pun berhenti sejenak mengambil nafas. Perlu diketahui bahwa jalur Cemoro Sewu memiliki 6 pos pendakian , pos terkahir sangat berdekatan dengan puncak. Beberapa mitos sebenarnya mengikuti perjalanan kami, khususnya jalur Cemoro Sewu. Ada yang mengatakan bahwa Gunung Lawu adalah salah satu gunung angker yang sering digunakan untuk bersemedi atau mencari berkah oleh orang-orang tertentu. Selain itu mitos berkembang bahwa di pos 2 pendaian Cemoro Sewu merupakan tempat angker yang memiliki sebutan pasar setan. Entah benar atau tidak itu tergantung orang masing-masing.

Proses pendakian kami lanjutkan setelah sekitar 10 menit kami berhenti. Dari pos 1 ke pos 2 jaraknya lumayan jauh, hampir sekitar satu jam kami baru sampai di pos 2. Namun demi menghindari hal yang tidak diingninkan akhirnya kami melewati pos 2 tanpa berhenti. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak ditepian jalur pendakian. Perjalanan ke gunung Lawu yang memiliki puncak Hargo Dumilah ini merupakan pendakian yang sangat berat. Medan yang keseluruhannya adalah tumpukan batu dan menanjak sepanjang trek juga di dukung oleh jalur yang zigzag, maka patut saya sebut sangat berat.
Harus diketahui bahwa beberapa pos pendakian tidak memiliki plang penanda atau nama. Maka sewaktu kita melewati sebuah gazebo yang agak besar, maka kami berasumsi bahwa itu adalah pos pendakian selanjutnya. Masih sekitar pukul 1 pagi, kami masih melanjutkan trek pendakian. Beberapa pos kami melawati tanpa tahu apa nama dari pos-pos tersebut. Udara semakin malam, sangat dingin dan didukung oleh angin kencang, pendakian ini terasa berat. Sekitar pukul 2 pagi kami menemukan tanah yang cukup lapang (tapi bukan puncak), kami pun berhenti dan beristirahat di sana. Sepanjang jalan kami tidak tahu puncak Lawu berada di sebelah mana. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk terus berjalan.

Satu jam kemudian atau sekitar pukul 3 pagi akhirnya kami sampai si sebuah tanah lapang lagi. Kali ini kami bisa bernafas lega karena ada sebuah bangunan yang ternyata itu adalah warung makan. Percaya tidak percaya, inilah salah satu keunikan saat kita mendaki gunung Lawu. Ada sebuah warung yang kerap disebut para pendaki sebagai warung makan Mbok Yem. Tapi yang kami temui ini bukan warung Mbok Yem (warungnya ada, tapi di jalur trek lain). Karena kami merasa sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana, atau pos 5 pendakian jalur Cemoro Sewu. Dan memutuskan untuk makan terlebih dulu.
Pendakian yang cukup panjang untuk sebuah puncak Gunung Lawu, selepas makan kami coba untuk istirahat sebentar sebelum muncak pagi nanti sekitar pukul setengah 5 pagi nanti. SB sudah double dan jaket pun tebal, tapi udara sangat dingin dan angin sangat kencang, sama sekali tidak bisa merasakan istirahat. Akhirnya kami semua bangun setengah 5 dan memutuskan untuk muncak. Tenda kami tinggal di sana dan tidak membawa apa-apa ketika muncak, katanya sudah lumayan dekat. Benar saja sekitar pukul setengah 6, persis sunrise muncul kami memasuki area puncak. Tepat di samping tugu puncak Hargo Dumilah terdapat tempat untuk ngecamp. Dan inilah beberapa foto pedakian Gunung Lawu puncak Hargo Dumilah 3265mdpl

posisi di samping puncak

                                                    ini tugu puncak Hargo Dumilah

ini pas mau turun gunung, awannya keren


ok kawan, itu cerita saya. salam bolangers, jagnan lupa jaga kebersihan lingkungan.



Wednesday, 16 September 2015

PENDAKIAN KE PUNCAK GN. PRAU WONOSOBO



PENDAKIAN KE

PENDAKIAN KE PUNCAK GN. PRAU WONOSOBO

PUNCAK GN. PRAU WONOSOBO


Salah satu gunung yang menjadi idaman dalam hidup saya adalah gunung Prau yang ada di daerah komplek Dieng Pletau di kabupaten Wonosobo. Sebenarnya gunung Prau adalah gunung kedua yang saya daki setelah gunung Ungaran di Semarang. Kali ini dengan ide gila, saya dan teman saya Atik bermaksud untuk melakukan pendakian nekat ke puncak Prau. Awalnya kami berencana hanya tiga orang (saya, atik, dan diah) berhubung kita semua perempuan jadi kita juga butuh laki-laki buat jaga-jaga saat pendakian. Akhirnya diyah mendapatkan anggota pendakian nekat 3 laki-laki. Mengapa saya katakan sebagai pendakian nekat? di sini hanya saya yang pernah mendaki gunung Prau, itupun setahun yang lalu. Kedua, kami semua tidak punya peralatan naik gunung yang mumpuni. Awal cerita saya berencana sesampainya di sana untuk menyewa perlengkapan seperti tenda, sb, matras, dll.

Rute perjalanan hari ini adalah kudus-demak-semarang-ungaran-ambarawa-temanggung-wonosobo-dieng
Hari itu pukul 8 pagi saya naik si kecil ke rumah Atik. Kami berdua nantinya akan start dari kota tercinta Kudus, sedangkan rombongan kedua akan berangkat dari Magelang. Kami berencana untuk ketemu di daerah Temanggung, tapi entah mau dikata apa akhirnya kami justru baru bisa bertemu di Wonosobo. Maklum, ternyata jarak Kudus- Wonosobo berbeda lumayan jika dibanding dengan Magelang-Wonosobo. Tapi ya sudah tidak apa-apa. Sampai di Wonosobo sekitar jam 1 siang, itu belum sampai di Dieng Pletau lho. Akhirnya kita sama-sama menuju ke Dieng Pletau, seperti ekspektasi kita sebelumnya ternyata kita sempat beberapa kali nyasar. Awalnya kami hampir mengikuti arah Dieng Pletau dengan jalan alternatif, tapi untuk tidak jadi. Kami memilih mengikuti jalan kota menyusuri alun-alun Wonosobo. Sekitar pukul 14.30 kami sampai di base camp pendakian gunung Prau, kita pun istirahat sebentar karena merasa pantat sudah panas sangat.

Awalnya kami bermasud untuk lihat-lihat dulu di kawasan Dieng Pletau, keliling ke arah Telaga Warna dan Telaga Pangilon. Kita masuk ke kawasan arah Telaga warna disetop, bayar dulu sebesar 8000 per orang. Akhirnya sampai juga kita ditempat parkir (bayar parkir), awalnya kita menyangka uang 8000 tadi sudah termasuk tiket ke area sekitarnya. Ternyata tidak, kita bayar lagi 7000 per orang utuk masuk ke Telaga Warna dan Pangilon. Mulai lah kami pikir-pikir utnuk meneruskan perjalanan ke objek lainnya. Akhirnya kita putuskan buat muncak saja ke gunung Prau.

 ini adalah spot kesukaan saat di Pangilon

Sekitar pukul setengah 5 kita balik ke parkiran pendakian, makan dulu karena perut sudah tidak bisa kompromi. Untung saja akhirnya kami menemukan tempat penyewaan peralatan naik gunung, kalau tidak entah kita berenam mau tidur di mana. Berikut adalah beberapa list harga barang yang kami sewa per satuan:
1.      Tenda (kapasitas 4-5 orang) = 45k
2.      Sb = 10k
3.      Matras = 5k
4.      Kompor = 25k
5.      Gas = 10k
6.      Nesting = 10k
Setelah persiapan dirasa sudah cukup, kita mulai pendakian puncak Prau. Awalnya kita santai, karena kami berpikir parkir sudah termasuk tiket muncak. Ternyata basecamp pendakian pindah, tak seperti dulu. Sampai di pos satu Sikut Dewo, kami dihadang oleh penunggu pos. Ternyata pendakian ke puncak Prau sekarang sangat berbeda dari tahun lalu, banyak sekali perubahan mencolok terutama tentang keamanan pendakian. Banyak sekali peraturan di sini, mau tidak mau kita membayar tiket masuk dua kali lipat dari harga normal yaitu 20.000. Payah, sudah hampir tipis uang yang dibawa.
Sepanjang pendakian hal yang harus diperhatikan oleh setiap pendaki adalah medan yang cukup licin. Medan dipenuhi oleh akar-akar pohon disekitar pendakian, ditambah saat itu musim hujan. Selain itu perlu juga diperhatikan adalah sandal atau sepatu gunung harus yang sesuai dengan medan. Waktu itu karena pendakian pertama bagi teman-teman saya, mereka memakai sepatu kets. Beberapa kali sepatu hampir terlepas dari kaki karena terlalu lengket dengan tanah yang basah. Kami berjalan perlahan namun pasti, sekitar pukul 10 malam kami sampai di puncak gunung Prau. Angin sangat kencang dan beberapa kali gerimis kecil turun. Hal itu menambah dinginnya tempat itu. Lalu kami mendirikan tenda yang sudah kami sewa sebelumnya, cukup lama kami mendirikan tenda karena tenda tersebut besar dan kami belum pernah mendirikan tenda seperti itu. Namun akhirnya setelah hampir satu jam, tenda dapat berdiri. Setidaknya bisa membantu kami untuk sembunyi dari angin yang bertambah kencang malam itu.
Akhirnya pagi saat melihat sunrise tiba, tapi sangat disayangkan hari itu seluruh langit ditutupi kabut. 
                                                                ini pas kita bertiga

Matahari sama sekali tidak menampakkan diri, selain itu pemandangan indah gunung Sumbing dan Sindoro yang biasanya sangat menawan sama sekali tidak terlihat. 

Harusnya pemandangan jika tidak berkabut seperti ini. Foto ini adalah pendakian pertama ke puncak Prau satu tahun sebelumnya. Indah bener.
Sekitar pukul 7 pagi, kami memutuskan untuk turun karena sepertinya cuaca seperti ini akan bertahan lama. Namun pandangan sekitar pukul 9 dari jalur pendakian sangat bagus. Nih,
 dengan atik pemandangan saat turun

ini kami semua

sekian singkat pengalamanku dan kawan-kawan saat ke puncak Prau Wonosobo. Salam bolangers dan jaga lingkungan ya,

Monday, 6 July 2015

PENDAKIAN PUNCAK ANDONG PEAK

PENDAKIAN ANDONG PEAK
 

Sudah lama sekali aku tidak menulis blog yang ini, maklum aku agak sibuk dengan blog sastra satunya lagi, arumpakarstory.blogspot.com. Ok, langsung saja kita cerita pengalaman saat aku mendaki di gunung Andong Magelang. Sebenarnya bukan gunung, lebih tepatnya lembah. Tapi kau tidak akan percaya bahwa pendakian Andong Peak ini terasa lumayan berat, medannya yang begitu luar biasa gilanya. Pertama kali aku perkenalkan kawan saat muncak di Andong Peak, namanya mas Gewol Bowo. Waktu itu sebenarnya tidak sengaja kami merencanakan ke Andong Peak, berhubung beberapa kali kami rencana tapi tak terealisasikan. Waktu itu iseng-iseng aku bbm, pengin banget kan muncak sebelum puasa,, hehehe. Akhirnya setelah banyak pikiran, malam itu langsung kita tentukan untuk berangkat siang harinya sekalipun hanya berdua. Hari itu hari Minggu kami berangkat dari Kudus sekitar pukul 2 siang, berbekal insting dan pemetaan jalur ke Magelang. Maklum kita berdua baru pertama juga muncak ke Andong Peak, namun akhirnya kita sampai juga di Pos Pendakian. Kali ini kami nyasar ke Pos Pendakian Sekar Arum Kembangan, tau deh gimana tracknya. Habis magrib tepat kami sampai di pos dan menyempatkan untuk sholat magrib, lalu regristrasi dan duduk2 bentar sambil nanya2 sama bapak2 di sana. Akhirnya habis isya' kami memutuskan untuk naik menuju puncak. Cuma kita saja yang waktu itu nanjak, namun ada beberapa rombongan yang baru datang ke pos pendakian. Berbekal senter, berangkat deh kita.

Belum apa2 di awal track kita disuguhi dengan tangga yang kemiringannya lumayan, mungkin 45 derajat ada kali ya. Aku sudah mulai ngos2an, tidak dapat dibayangkan track awal begini banget. Katanya naik Andong Peak cukup 1 jam, yang bener aja gila kali. Setelah ketemu dengan tangga tadi yang banyak kali, kita sampai di pos 1, tempatnya seperti gazebo dan tanah lapang seperti sering digunakan untuk berkemah. Lalu kami melanjutkan perjalanan, track sepanjang Andong Peak selalu nanjak, sulit untuk menemui track lurus dan datar. Udara sangat dingin, maklum ini musim kemarau. Sudah satu jam kami menyusuri track full tanjakan ini namun tidak bisa melihat puncak Andong. Beberapa lama aku mulai membenci track ini, maklum ini track kedua yang hampir membuatku putus asa melihat puncak setelah pendakian mengerikan ke Puncak Lawu, maklum full tanjakan tangga.

Ok, dua jam berlalu dengan penuh kegilaan. Aku merasa mulai lelah dan pikiranku sudah gila. Akhirnya aku berjalan di belakang dan mas Gewol di depan, beberapa kali aku istirahat (berasa udah tua). Hingga kami sampai pada sebuah tanjakan yang kami pikir itu puncak (hahaha... udah nggak waras) dan ternyata itu hanya tanah lapang yang sering di buat ngecamp para pendaki. Lalu puncaknya dimana??? entah lah. Kami berjalan terus-terus dan tiga jam berlalu, mas Gewol entah apa yang terjadi dia masuk angin (kali aja). kami pun sampai di sebuah tanah lapang lagi dan bisa melihat puncak, ini mungkin hampir satu jam buat sampai dan ngecamp di puncaknya. Tapi dia mulai muntah2 dan kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang. Kami bisa melihat orang2 yang sampai puncak, tapi mau apa lagi tidak bisa dipaksakan. Tenda pun berdiri dan siap2 masak, berhubung sudah lapar dan kedinginan. Lalu istirahat lah kita, agak sedikit pesimis jika mas Gewol tak pulih kita g bisa muncak.

Jam pun berlalu, sekitar pukul set 5 kami bangun, dengan pertanyaan "muncak gak?" awalnya aku yang pesimis, bagaimana tidak udara di luar saja seperti es. Tapi apalah arti dingin, sudah sampai sini masak nggak muncak (yang bener aje). Alhasil kita memutuskan untuk muncak, berbekal air dan sedikit cemilan, kami meninggalkan tenda berdiri menuju puncak. Entah dimana puncaknya yang jelas di sana ada banyak puncak, setelah mencari2 akhirnya sampai kita di puncak Andong Peak. Dan mari kita lihat indahnya pemandangan dari Andong Peak (hahaha)...

ini entah dari sebelah timur, itu sepertinya gunung telomoyo (sepertinya)
ini belakang ada gunung sumbing & sindoro
ini dia gunung merbabu yang gede dan sampingnya gunung merapi

nah, itu pengalamanku naik ke Andong Peak. Selamat mencoba track, kawan.

Thursday, 19 March 2015

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN (2050 mdpl)

MENUJU PUNCAK UNGARAN 

aku ingin sedikit cerita perihal pendakian ke salah satu spot gunung di Semarang, yaitu gunung Ungaran. Awalnya dari ketidaksengajaan, berhubung hari itu Sabtu dan pada hari Minggu aku libur PPL maka iseng temen-temen kos main ke Ungaran. Berbekal tas berisi bekal seadanya (roti, air mineral, dan tentunya mie) seperangkat tenda dkk, kami berangkat sekitar jam 5 sore dari Unnes Gunungpati. Kami terdiri dari beberapa orang, perempuannya adalah kami berlima (mb Miski, Xadong, Intan, Tami dan tentunya aku).

Sampai di pos pertama atau yang sering kami sebut pos mawar, kita parkir motor dan membayar biaya pendakian. Sekitar Isya' kami mulai pendakian menuju ke kebun teh atau sekitar desa Promasan. Karena pendakian dilakukan malam hari, praktis tidak ada yang terlihat kecuali gelap, namun jangan khawatir berhubung malam ini adalah malam minggu tentunya pendakian cukup ramai dengan banyak pendaki dari luar Semarang. Beberapa kali kami saling salip dengan pendaki lain, oh iya pendakian ke Ungaran ini adalah pendakian pertamaku. Berkat kompor Intan, kami berempat entah kenapa ikut dengan kebiasaan manjat gunung ini. Kami sempat berhenti disebuah spot kolam air untuk mengisi cadangan air minum kami untuk masak di kebun teh nanti.

dari atas Intan, aku, mb Miski, dan murid PPL Intan

Kira-kira sekitar jam 10 malam kami sampai di tempat yang kami maksudkan untuk mendirikan tenda, yaitu di kebun teh yang luas. Sebenarnya ada alternatif bagi pedaki yang tidak memakai tenda atau bekal pendakian, di kebun teh terdapat desa kecil yang kerap disebut para pendaki Desa Promasan. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami mendirikan tenda, berhubung jalur pendakian puncak Ungaran melewati tempat kami mendirikan tenda, jadi akan bolak-balik jika kami ke Desa Promasan. Usai mendirikan tenda (para cowok) yang cewek kebagian buat masak menyiapkan makanan. Berhubung masih jam 10an, kami memutuskan untuk istirahat sebelum nanti jam 2 pagi mulai pendakian ke puncak.

ini adalah tenda kami

Akhirnya pukul 2 pagi kami mulai pendakian ke puncak, para perempuan yang awalnya berjumlah 5 orang, mendadak menjadi 4 orang (berhubung mb. Miski  milih molor ketimbang menuju puncak). Jalan trek menuju ke Ungaran dapat dikatakan cukup terjal, jalan terdiri dari padas dan batuan yang cukup besar dan curam. Di tengah perjalanan kami sempat menemui batu yang cukup besar dan tinggi untuk di daki. Namun apalah itu puncak sudah menanti, keinginan kami untuk melihat sunrise sudah tidak bisa dibendung lagi. Sekitar pukul 4 lebih akhirnya kami sampai di puncak Ungaran yang ternyata sangat ramai. Ini dia yang bisa dilihat dari puncak Ungaran.

ini adalah pemandangan dari puncak Ungaran


ini adalah kami berempat (aku, Intan, Xadong, dan Tami)

dan ini kami semua (kecuali yang pada tidur di tenda, hahaha)

Salam para Pendaki, Lestarikan Gunung dan Jangan Dikotori Guys....

Wednesday, 15 October 2014

PERJALANAN KE BROMO (part 2)

PERJALANAN KE BROMO (part 2)

part 2

Hari ke 2
Ok... ini adalah lanjutan dari perjalanan ke Bromo part 1. Seusai pantat terasa lecet, melewati jalan menikung, sepi, dan tentunya curam. Sampailah kita ke Bromo, hingga bisa lihat sunrise yang indahnya super gila itu.

di parkiran

Seusai melihat sanrise kami merasa penasaran dengan daratan Bromo yang sesungguhnya. Terlihat dari atas, Bromo terlihat seperti lautan lumpur atau air, tapi sebenarnya itu adalah pasir. Sebagaimana banyak dikatakan itu adalah Pasir Berbisik. Tapi tunggu dulu, seusai melihat sunrise kita butuh makan dan tempat penginapan untuk malam nanti. Selagi pada makan, beberapa dari kami mencoba bernego tentang harga penginapan alias homestay. Di Bromo sebagai seorang yang nge-trip tapi uangnya pas-pas an kita harus pinter-pinter buat mencari homestay. Harga kisaran homestay adalah 300 ribu untuk per satu rumah yang bisa ditinggali rame-rame. Kalau beruntung kita bisa dapat harga miring yaitu 200 ribu saja.

Tidak lupa kita bersih-bersih dulu,, dingin.... semakin dekat kita dengan tujuan pasir berbisik. Beginilah.....

yang katanya Gn. Batok ya ini.... Belakangnya pas, ada Gn. Bromo yang tersembunyi...

Dan beginilah ketika sampai di area gambut pasir berbisik... tepatnya di sisi lain pasir berbisik..

ini adalah rombongan ngetrip

Dari arah sana, ternyata jalan buntu... he..he..he.. akhirnya kita kembali ke tempat semula dan siap mengarungi pasir berbisik yang sesungguhnya. Dengan modal nekad, dan tahu konsekuensi dari kenekadan itu kami berangkat. Seharusnya hanya mobil jeep dan motor cross yang bisa melewati itu, secara jalan yang kita lewati adalah debu dan pasir yang halus. Niscaya motor kami terperosok ke dalam pasir dan terpaksa harus turun dorong, naik, dan turun untuk mendorong lagi...

ini lho pasir berbisik itu

Tanpa basa-basi kita sampai juga di Gn. Bromo
parkit dulu bray jangan lupa.. he..he..he..

ini dia kita harus jalan kaki utk liat kawah Bromo

itu dia tangganya.. tanda kita sudah semakin dekat

siap melihat kawah Bromo yang menawan????

ini dia kawan Bromo... Kalau kecebur niscaya lewat!!! ha..ha..ha..

ini adalah Gn Batok yang tadi kita liat,,, seperti raksasa

Betapa indahnya bukan,,,, inilah keindahan Bromo dkk

to be continue...





PERJALANAN KE BROMO (part 1)

PERJALANAN KE BROMO

part 1

Hari ke 1
Hari itu tertanggal 26 September 2014, tepatnya di pukul 7 kami serombongan yang berjumlah 24 orang berkumpul di kontrakan. Kami berencana pergi ke bromo menggunakan motor masing-masing. Kira-kira jam 8 kami semua memulai perjalanan dari kontrakan, tepatnya daerah Gunung Pati Unnes Semarang. Hampir setangah hari kami berada di motor,,, hingga akhirnya ban motor salah seorang dari kami bocor... akhirnya kami semua menunggu sambil beristirahat karena pantat yang sudah benar-benar terasa lecet.


Lalu kami meneruskan perjalanan hingga menjelang malam. Sampai di Pasuruan hampir sekitar pukul 12 malam. Perjalanan yang cukup sepi kami lalui di Nangka Jajar. Sepanjang perjalanan sepi dan jalanan penuh liku, tanjakan, dan tikungan tajam. Hingga sampai di pendopo Bromo sekitar pukul 3 pagi.

Hari ke 2

Sampai di Pendopo akhirnya kami memutuskan untuk tidur sebentar. Ternyata memang benar, di musim kemarau seperti ini, suhu di Bromo sangat ekstrim dinginnya bukan main. Jadi saya sarankan ketika ke Bromo di musim kemarau, anda harus benar-benar menyiapkan pakaian hangat yang memadai. Pukul 4 pagi kami beranjak menuju tempat untuk melihat sunrise. Di pintu masuk kami membayar tiket, yang terlihat banyak sekali mobil-mobil jeep yang juga hendak menuju tempat sunrise Bromo. Medan tak lebih baik dari perjalanan ke pendopo, jalanan tidak rata, sempit dan tentunya curam. Untuk menuju sunrise kami harus bersaingan dengan mobil jeep.
Namun, akan sangat bahagia ketika kita bisa melihat sunrise seperti ini,

sunrise Bromo

Dan semakin bahagia melihat Bromo seperti ini

dari lokasi sunrise Bromo

Dari sisi lain tempat parkir, inilah Bromo yang sesungguhnya


di foto sangat indah, tapi cobalah lihat dengan mata secara langsung. Indahnya tidak ada tandingan, tidak ada kesia-siaan hampir sehari suntuk di atas motor hingga pantat terasa lecet.

to be continue....