Wednesday, 17 July 2013

DAFTAR SMP SE KABUPATEN KUDUS


DAFTAR SMP SE KABUPATEN KUDUS




Negeri

Swasta

No
Nama Sekolah
Kec.
Kategori
No
Nama Sekolah
Kec
1
Kaliwungu
SSN
1
SMP BHAKTI PRAJA KALIWUNGU 
Kaliwungu
2
SMP 2  KALIWUNGU 
Kaliwungu
SSN
2
SMP II LUQMAN AL HAKIM
Kaliwungu
3
Kota
Eks RSBI
3
SMP MUHAMMADIYAH 1 
Kota
4
Kota
Eks RSBI
4
SMP MASEHI 
Kota
5
Kota
SSN
5
SMP BHAKTI 

Kota
6
Kota
SSN
6
SMPIT AL - ISLAM 

Kota
7
Kota
SSN
7
SMP NU HASYIM ASY'ARI 
Kota
8
Jati
RSBI
8
SMP PUTRI NAWA KARTIKA 
Kota
9
Jati
SSN
9
SMP KELUARGA
Kota
10
SMP 1 Undaan
Undaan
SSN
10
SMP TAMAN DEWASA 
Kota
11
SMP 2 UNDAAN 
Undaan
SSN
11
SMP MUHAMMADIYAH 2 
Jati
12
SMP 1 Mejobo 
Mejobo
SSN
12
SMP NU AL MA'RUF 
Jati
13
SMP 2 MEJOBO 
Mejobo
SSN
13
SMP PGRI JATI 
Jati
14
SMP 1 JEKULO
Jekulo
SSN
14
SMP ISTIQLAL
Jati
15
SMP 2 Jekulo
Jekulo
Non SSN
15
SMP MUHAMMADIYAH 3 
Undaan
16
SMP 3 JEKULO
Jekulo
Non SSN
16
SMP ISLAM TERPADU ASSA'IDIYYAH 
Mejobo
17
SMP 2 BAE
Bae
SSN
17
SMP BHAKTI PRAJA MEJOBO  
Mejobo
18
Bae
SSN
18
SMP PGRI JEKULO
Jekulo
19
Bae
SSN
19
SMP IT ROHMATUL UMMAH 
Jekulo
20
SMP 4 BAE 
Bae
Non SSN
20
SMP BHAKTI PRAJA GEBOG
Gebog
21
Gebog
SSN
21
SMP LB SUNAN MURIA
Dawe
22
SMP 2 GEBOG
Gebog
SSN



23
SMP 3 SATAP GEBOG
Gebog
Non SSN



24
SMP 1 DAWE
Dawe
SSN



25
SMP 2  Dawe
Dawe
SSN



26
SMP 3 DAWE
Dawe
SSN



27
SMP TERBUKA 1 KALIWUNGU 
Kaliwungu
Non SSN



28
SMP  TERBUKA 2 KALIWUNGU 
Kaliwungu
Non SSN



29
SMP TERBUKA 1 GEBOG
Gebog
Non SSN



30
SMP Terbuka 1 Mejobo 
Mejobo
Non SSN




“SURVEI PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA DI WARNET”





  PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

“SURVEI PERILAKU SEKS BEBAS REMAJA
DI WARNET”


Bidang Kegiatan:
PKM Penelitian

oleh :
Arum Novitasari         (7101410188/2010)
Rossi Yunieka             (7101410220/2010)
Lia Novita Sari           (7101410105/2010)
Meinar Tiara              (2601411096/2011)


ABSTRAK
     Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin dolescere (kata bendanya, adoescentia yang berarti remaja yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Masa remaja dalam pembentukan hubungan- hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis, dan dalam memainkan perannya dalam seks. Hal ini datang dari tekanan- tekanan sosial tetapi terutama dari minat remaja pada seks dan keingintahuannya tentang seks. Keingintahuan dan perilaku seks remaja dalam seringkali di warnet. Warnet di Indonesia sendiri didesain berbentuk bilik-bilik pribadi yang tertutup. Desain warnet tersebut ternyata memberi dampak negatif. Diantaranya bagi kalangan remaja yang menggunakan fasilitas tersebut untuk mengakses hal- hal yang negatif, contohnya web- web untuk dewasa, selain itu adanya masa perkembangan dimana remaja pada fase pubertas yang ingin tahu tentang segala hal.
     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai perilaku seks bebas yang dilakukan remaja di warnet. penelitian ini menggunakan metode deskriptif presentase dengan random sampling. Instumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun sendiri berdasarkan teori bentuk- bentuk perilaku seksual menurut Hurlock (2004) dan Santrock (2003). Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 398 remaja. Adapun remaja yang menjadi sampel terdiri dari 201 remaja usia 13-15 tahun dan 197 remaja 16-18 tahun dan tinggal di Kabupaten Kudus.
     Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 201 remaja usia 13-15 tahun di Kabupaten Kudus, 79 remaja (39,3%) diantaranya pernah berpegangan tangan di warnet, 57 remaja (28,4%) diantaranya pernah berpelukan di warnet, 52 remaja (25,9%) yang mengaku pernah melakukan perilaku necking di warnet dan 50 remaja (24,9%) yang pernah meraba bagian sensitif tubuh remaja di warnet. sedangkan dari 197 remaja usia 16-18 tahun di Kabupaten Kudus, 102 remaja (51,8%) diantaranya pernah berpegangan tangan di warnet, 59 remaja (29,9%) diantaranya pernah berpelukan di warnet, 58 remaja (24,4%) yang mengaku pernah melakukan perilaku necking di warnet dan 65 remaja (33%) yang pernah meraba bagian sensitif tubuh remaja di warnet Kabupaten Kudus.

Kata kunci: remaja, warnet, dan perilaku seksual


I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Warung Internet atau yang sering disingkat dengan warnet banyak digunakan untuk mengakses data dan informasi. Di negara-negara atau daerah-daerah maju yang akses internetnya sudah ada pada hampir setiap rumah, warnet jarang didapatkan dan mahal tarifnya. Di daerah perkotaan (urban) sebuah warnet memiliki nama-nama umum panggilan lain seperti; Net Cafe, Cyber Cafe, atau pusat permainan dalam jaringan dimana sambungan internetnya dikhususkan untuk melakukan permainan komputer dalam jaringan. Di daerah atau pinggir kota umumnya lebih dikenal sebagai telecenter. Di Indonesia sekarang pemakai layanan akses internet tidak hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas saja, tetapi dapat dinikmati pengguna internet di semua kalangan. Warnet sekarang tidak hanya digunakan untuk mencari informasi dari penyedia layanan data, tetapi dewasa ini warnet memiliki telah menjadi candu bagi remaja. Warnet di Indonesia sendiri didesain berbentuk bilik-bilik pribadi yang tertutup. Desain warnet tersebut ternyata memberi dampak negatif. Diantaranya bagi kalangan remaja yang menggunakan fasilitas tersebut untuk mengakses hal- hal yang negatif, contohnya web- web untuk dewasa, selain itu adanya masa perkembangan dimana remaja pada fase pubertas yang ingin tahu tentang segala hal. Selanjutnya keinginan itu berorientasi untuk mencoba apa yang dilihat dari situs- situs dewasa internet sehingga cenderung lebih mudah jika remaja melakukan seks bebas di dalam warnet. Selain itu kami pernah membaca tentang penelitian yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tentang seks dikalangan remaja.
Menurut penelitian di atas, menunjukkan bahwa di kota Palembang, Kupang, Tasikmalaya, Cirebon dan Singkawang jumlah remaja yang melakukan hubungan seks diluar nikah pada tahun 2006 sukup tinggi. Sekitar 9,1% remaja telah melakukan hubungan seks pranikah dan 85% sisanya melakukan hubungan seks pertama mereka pada usia 13-15 tahun di rumah mereka dengan pacar (BKKBN 2006). Hal ini mendorong kami untuk melakukan penelitian terhadap usia antara 15 tahun- 17 tahun atau usia- usia remaja anak SMP dan SMA. Oleh karena latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan judul “Survei Perilaku Seks Bebas Remaja Di Warnet”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada apa saja perilaku seks bebas yang dilakukan remaja di warnet?
C.    Tujuan Penelitian
Meningkatnya perilaku seks bebas yang dilakukan oleh kelompok usia dengan menggunakan warnet sebagai tempat melakukan seks bebas merupakan hal serius. Atas dasar alasan di atas, kami ingin melakukan penelitian ini, agar dapat ditemukan berbagai treatment, formula serta langkah antisipatif keluarga dan masyarakat untuk merespon perubahan yang sangat cepat ini.
D.    Luaran yang Diharapkan
Luaran dalam penelitian ini diharapkan menghasilkan kajian ilmiah tentang sejauh mana kerusakan moral dan dampak seks bebas di kalangan remaja yang dilakukan di warnet.
E.     Kegunaan Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sebuah kajian ilmiah tentang kerusakan moral dan dampak seks bebas di warnet.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman baru bagi masyarakat tentang kerusakan moral remaja melakukan seks bebas di warnet serta pemahaman tentang cara pengawasan terhadap remaja.

II.                METODE PENDEKATAN
3.1. Instrumen Penelitian
Dalam Sugiyono (2011:92) instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Pertanyaan tersebut disusun berdasarkan Hurlock (2004), Sarwono (2010) dan Santrock (2003).
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Guttman. Skala pengukuran dengan tipe ini akan dapat jawaban yang tegas yaitu “ya-tidak” Sugiyono (2011:96).
 Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif presentase. Jenis penelitian deskriptif dalam penelitian ini adalah penelitian survei dengan menggunakan cross sectional survey, dimana penelitian dilakukan pada satu waktu tertentu.
2.2.            Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dengan metode “split-half” (masih dengan satu tes), suatu tes dibagi menjadi dua bagian yang sama tingkat kesukarannya, sama isi dan bentuknya. Kemudian dilihat skor masing- masing bagian peruhan tes tersebut dan dicari korelasinya.
2.3.            Populasi dan Sampel
Ukuran sample menggunakan rumus Slovin dan didapat sampel sebanyak 398 remaja, terdiri atas 201 (usia 13-15 th) dan 197 (usia 16-18 th)
2.4.            Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah responden diminta untuk mengisi.

III.             PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kudus. peneliti mengambil objek remaja usia 13- 15 tahun dan usia 16-18 tahun. Penelitian dimulai pada 30 Maret 2013 hingga tanggal 2 Juni 2013.
3.2.            Tahapan Pelaksanaan
1.      Studi Pendahuluan Observasi Daerah Sasaran (30 Maret- 1 April 2013)
2.      Penentuan Populasi dan Sampel Objek (5 April 2013)
3.      Penyusunan Instrumen Penelitian (13 April- 20 April 2013)
4.      Uji Coba Instrumen Penelitian (21 April-13 April 2013)
5.      Evaluasi Uji Coba (27April- 29 April 2013) dan Pelaksanaan Penelitian (3 Mei-26 Mei 2013)
6.      Tabulasi Data Penelitian (27 Mei- 2 Juni 2013)
7.      Analisis Data Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian (3 Juni- 18 Juni 2013)
IV.             PEMBAHASAN PENELITIAN
Dalam perkembangan remaja, seks tidak dapat dipisahkan dan akan selalu ada di dalamnya. Hal ini dikarenakan saat usia remaja merupakan salah satu masa ingin tahu yang begitu besar. Sesuai dengan masanya, remaja mulai tertarik dan memiliki hubungan heteroseksual dengan pasangannya. Faktor yang mempengaruhi perilaku seks bebas di kalangan remaja, diantaranya, yaitu: 1) perubahan hormon seksual pada remaja, 2)norma agama yang melarang seks sebelum menikah tapi bagi remaja yang tidak dapat menahan hawa nafsu akan cenderung melanggar norma, 3) Semakin canggihnya teknologi informasi (internet) menyebabkan penyebaran informasi secara cepat dan mudah, baik informasi yang bersifat positif dan negatif (Sarwono:2004) Banyak hal yang dapat mempengaruhi remaja untuk melakukan perilaku seksual namun sebagai manusia yang beragama dan tinggal dalam kehidupan bermasyarakat, kita perlu memperhatikan bagaimana tuntunan dan nilai-nilai agama serta pranata sosial yang ada di sekelilingnya. Terutama yang erat hubungannya dengan penyaluran dan pengendalian dorongan seks yang sedang melanda diri remaja. Tanpa memperhatikan hal tersebut berarti remaja tersebut telah mengabaikan tuntutan nilai dan moral yang terdapat dalam lingkungannya. Keadaan ini merupakan suatu hal yang sangat tercela bagi masyarakat yang sehat dan masih memegang teguh nilai-nilai luhur. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan remaja untuk mengendalikan dorongan seksnya, diantaranya seperti : a) Menjauhkan diri dari semua yang dapat merangsang  seks secara tidak alami, b) Menyiapkan program-program untuk mengisi waktu luang, c) Membimbing dan menguatkan keinginan, d) Tindakan preventif secara total, e) Dukungan iman.
Sebagaimana internet mempengaruhi perilaku seksual remaja di Kabupaten Kudus, dimana warnet menjadi salah satu tempat dalam mengakses informasi sekarang ini digunakan remaja lokasi untuk melakukan perilaku seks bebas. Selain itu Suwarjo (2011) menilai warung internet (Warnet) sebagai pemicu remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah. Kerawanan utamanya terjadi pada Warnet yang menyediakan tempat tertutup pada konsumennya. Dunia seks bebas yang dulu hanya diidentikkan di kamar- kamar hotel, vila, losmen, diskotik, dan ikon- ikon dunia para orang berduit kini merambah ruang- ruang bebas dan tempat umum.  Fasilitas ruangan ber-AC, webcam, headset dengan musik MP3, film, kursi sofa, dan ruangan bilik yang privasi menjadi dambaan konsumen. Kini Warnet dijadikan tempat mesum karena terlalu privasinya ruang atau bilik warnet. Para konsumen dapat dengan bebasnya melakukan aktivitas apa saja di dalam bilik itu. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian ini, 33,8% remaja usia 13- 15 tahun dan 36% remaja usia 16-18 tahun di Kab. Kudus pernah mengakses gambar porno. Ini menunjukkan bahwa warnet menjadi salah satu tempat remaja dalam mengeksplorasi dirinya terhadap seks bebas.
Menurut Hurlock (2004) beberapa aspek perilaku seksual, antara lain: 1) Eksplorasi, adalah perilaku seksual yang di dahului keingintahuan, kemudian dilanjutkan pada eksplorasi seksual. 2) Masturbasi, adalah perilaku seksual yang bertujuan untuk merangsang diri sendiri. 3) Heteroseksual, yaitu perilaku skesual yang dilakukan dengan lawan jenis. Perilaku skesual tersebut berupa berpegangan tangan, berpelukan (necking), berciuman (kissing), meraba daerah sensitif, bercumbu (petting)I, oral seks, sexual intercouse (bersenggama). 4) Aggressive sex, yaitu bentuk perilaku pamaksaan seksual terhadap lawan jenis. Hal ini terjadi bila salah satu pasangan ingin melakukan hubungan seks sedangkan yang lain tidak. Untuk masturbasi dalam penelitian ini, 14,9% remaja usia 13-15 tahun dan 18,8% remaja usia 16-18 tahun pernah melakukan perilaku masturbasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku seksual yang paling banyak dilakukan remaja di warnet adalah berpegangan tangan. Berpegangan tangan tampaknya telah dianggap hal yang wajar dilakukan dalam proses interaksi heteroseksual, sehingga 39,3% remaja usia 13-15 tahun dan 51,8% remaja usia 16-18 tahun remaja melakukannya. Diagram gambaran perilaku heteroseks (touching) memperlihatkan gambaran remaja melakukan perilaku berpegangan tangan remaja di warnet. Tingginya angka remaja dalam melakukan perilaku tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya berpegangan merupakan ekspresi perasaan sayang yang dapat  menimbulkan perasaan aman dan nyaman (Hurlock, 2004). Perilaku berpelukan juga termasuk dalam perilaku yang banyak dilakukan oleh remaja di warnet yang menjalin relasi heteroseksual, yaitu 57 remaja (28,4%) usia 13-15 tahun dan 59 remaja (29,9%) usia 16-18 tahun diantaranya pernah berpelukan di warnet. Angka ini menunjukkan remaja melakukan perilaku tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya berpelukan dapat menimbulkan perasaan aman, nyaman, dan tenang. (Hurlock, 2004). Selain itu dapat dilihat bahwa kecenderungan remaja usia 16-18 tahun dalam perilaku necking memiliki kecenderungan yang hampir sama dibandingkan remaja usia 13-15 tahun. Tabel necking menunjukkan bahwa dari 197 (100%) remaja  di Kabupaten Kudus hanya 58 remaja yang mengaku pernah melakukan perilaku necking di warnet. Sedangkan diketahui bahwa dari 201 (100%) remaja  usia 13- 15 tahun di Kabupaten Kudus hanya 52 remaja yang mengaku pernah melakukan perilaku necking di warnet. Area necking yang dilakukan remaja di Kabupaten Kudus mulai dari zona erotis, kening, pipi, leher, bibir hingga alat kelamin. (BKKBN (dalam Ringasan Riset Studi Mengenai Perilaku Seksual Kawula Muda di Empat Kota Besar di Indonesia, 2005).
Selain perilaku necking, remaja di Kabupaten Kudus juga melakukan perilaku seks yang diwujudkan dengan melakukan perabaan di bagian tubuh yang sensitif. Sampel 201 remaja usia 13- 15 tahun , hanya 50 remaja yang pernah meraba bagian sensitif tubuh remaja di warnet. Sedangkan dari 197 remaja usia 16-18 tahun , hanya 65 remaja yang pernah meraba bagian sensitif tubuh remaja di warnet Kabupaten Kudus. Dampak dari sentuhan/ rabaan ini dapat menimbulkan rangsangan seksual dan dapat menjurus ke perilaku selanjutnya. Dampak perilaku seksual tersebut cukup serius yaitu : 1) Perilaku berpegangan tangan memang tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat, namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktifitas seksual lainnya (hingga kepuasan seksual dapat tercapai). 2) Perilaku berpelukan akan membuat jantung berdegup lebih cepat dan menimbulkan rangsang seksual (terutama di daerah erogenous). 3) Perilaku mencium pipi dan kening bisa mengakibatkan imajinasi dan fantasi seksual jadi berkembang, selain itu juga dapat menimbulkan keinginan untuk melanjutkan ke bentuk aktifitas seksual lainnya yang lebih dapat dinikmati. Sedangkan perilaku mencium bibir dapat menimbulkan sensasi seksual yang kuat yang membangkitkan dorongan seksual yang hingga tak terkendali. Selain itu juga dapat memudahkan penularan penyakit TBC, hepatitis B, dan penyakit yang ditularkan secara peroral lainnya. 4) Perilaku meraba bagian tubuh yang sensitive akan menimbulkan rangsangan seksual sehingga melemahkan kontrol diri dan akal sehat, akibatnya bisa menimbulkan aktifitas seksual selanjutnya (cumbuan berat dan intercourse).

V.                KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Perilaku berpegangan tangan, berpelukan, necking, meraba bagian tubuh yang sensitif dan agresif seks merupakan perilaku yang pernah dilakukan sebagian remaja di Kabupaten Kudus. Jika dibandingkan antara golongan remaja umur 13-15 tahun dan remaja umur 16-18 tahun, kecenderungan berisiko untuk melakukan perilaku seks bebas lebih mengarah kepada remaja umur 16-18 tahun.
5.2 SARAN
Remaja di Kabupaten Kudus nampaknya kurang memperhatikan fungsi awal adanya warnet sebagai media untuk mengakses informasi, dan justru digunakan sebagai tempat melakukan perilaku seks. Selain itu remaja cenderung kurang peduli terhadap dampak yang bisa terjadi akibat perilaku seks bebas. Sehingga, partisipasi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengatasi hal tersebut agar tercipta penerus bangsa yang bermoral dan sehat. Terutama dari penyedia jasa warnet agar lebih memperhatikan desain warnet agar tidak membuka peluang remaja untuk melakukan kegiatan seksual di dalamnya. Selain itu salah satu upaya yang dapat di lakukan dalam bidang kesehatan adalah dengan dilakukannya pendidikan kesehatan mengenai pendidikan seks remaja untuk mengendalikan perilaku seks remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, B,E. 2004. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), edisi 5 Jakarta: Erlangga
Sarwono, S, W. 2010. Psikologi Remaja (Edisi Revisi). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suntrock, J, W. 2003. Adolesense (Perkembangan Remaja), edisi 6 Jakarta: Erlangga
www.wikipedia.com.Warnet.Artikel. (http://id.wikipedia.org/wiki/Warung_Internet).Diakses pada tanggal 09 Maret 2013.

Bahan Bakar Minyak


“ADEM PANAS YANG KATANYA BBM”
Artikel oleh: Arum Novitasari 
Tak bisa dipungkiri memang efek dari kata “BBM” Bahan Bakar Minyak bukan Blackberry Massagger ini sangat cetar membahana. Para pakar dan ahli debat tidak karuan karena masalah yang membosankan ini. Pemerintah sebagai instansi yang tertinggi dan pemegang keputusan tetap ngotot bahwa menaikkan harga BBM bersubsidi adalah jalan satu- satunya untuk menyelamatkan perekonomian bangsa Indonesia. Terlepas dari itu masyarakat tak mau ketinggalan, mahasiswa gembar- gembor kesana kemari yang katanya menyuarakan nasib rakyat Indonesia ini. Boleh dikatakan, bahwa pemerintah sudah sangat maksimal memberi subsidi BBM selama ini. Hingga akhirnya sampai titik defisit keuangan negara, pemerintah bingung. Katanya kuotanya jebol, kalau tak cepat ditangani bisa- bisa Indonesia terkena resesi berat. Ada benarnya juga, untuk negara sebesar Indonesia tak mungkin membiarkan kas negara defisit. Apa yang perlu dilakukan negara ini? Berhutang? Menjual obligasi? Demi mengademkan rakyatnya. Tentu bukan begitu aturan mainnya, setelah digodok berbulan- bulan yang awalnya hanya sekedar wacana kenaikan BBM akhirnya bulan Juni BBM resmi dinaikkan.
Tak lama itu masalah membabi buta mengancam pemerintah, demo, debat adu argumen terjadi dimana-mana. Di satu sisi pemerintah yakin ini adalah jalan terbaik, tapi bagi rakyat ini adalah tali rotan untuk mengantungnya. Sudah pasti terjadi kenaikan BBM menjadikan komoditas lainnya ikut naik habis- habisan. Belum ada pengumuman naik, seakan-akan rakyat sudah pada mati dulu karena takut harga komoditas pada naik. Tidak tahu apa ini sebenarnya. Diluar itu, mahasiswa dengan gagah berani lengkap persenjataannya siap bertarung dengan polisi yang menjadi pagar betis pemerintah yang katanya untuk membela kepentingan rakyat. Apa iya? Sebagai generasi muda, seharusnya bisa berpikir secara rasional. Mana yang harus dan tak harus dilakukan, bisa dipastikan mereka tahu bahwa pemerintah mengalami krisis keuangan karena subsidi BBM. Tapi tak bisakah mahasiswa sedikit saja mau mengakui segala keadaan yang terjadi di negerinya ini. Bayangkan Indonesia sebesar ini, dengan 33 Provinsi yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas sampai pulau Rote. Sadarkan bahwa Indonesia ini lebih besar dari apa yang dibayangkan? Maukah mereka mengakui NKRI sebagai kesatuan terbesar? Jawabannya tentu ada dimasing- masing hati mereka.
Tapi tenang, pemerintah siap mengalihkan uang dari subsidi BBM dengan Kartu Jaminan Sosial (KJS) bukan begitu? Ada yang namanya BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat). Barang tentu itu menjadi itikad baik pemerintah untuk tetap memperhatikan masyarakatnya. Ya meskipun dalam pelaksanannya ada beberapa masalah tapi memang begitu adanya. Tidak ada program yang perfect di dunia ini, hal itu wajar dan sesuai hukum alam. Tentu golongan yang pertama kali menolak adalah mahasiswa, wajar karena mereka tak mendapatkannya. Untuk BLSM yang katanya akan diberikan hanya dalam 5 bulan saja kepada masyarakat kategori tidak mampu cukup mengesankan, tapi kesalahan- kesalahan yang banyak dimata yang katanya pengamat politik digunakan sebagai pencitraan yang berujung pada korupsi masal di pemerintahan. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

            Sebuah alasan yang digunakan untuk saling tuduh menuduh siapa yang salah, lantas siapa yang akan menjaga negeri tercinta ini? Pemerintah kan? Generasi muda kah? Oposisi kah? Atau siapa pahlawannya? Seolah-olah tidak sadar bahwa selama ini negeri tercinta kami sudah lama menderita menanggung beban yang katanya rakyatnya.

Tuesday, 7 May 2013

MANAJEMEN PERSONALIA


MANAJEMEN PERSONALIA 
Oleh: Arum Novitasari (7101410188)
Manajemen personel merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara continue para pekerja disekolah, sehingga mereka dapat membantu atau menunjang kegiatan-kegiatan sekolah khususnya PBM secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetepkan. Para personel harus dikelola dengan baik agar mereka senantiasa aktif dan bergairah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.
A.    PERENCANAAN PERSONALIA
Penyiapan dan pengadaan pegawai
Dalam penyiapan dan pengadaan pegawai, seorang pelamar harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a)         Waga negara indonesia, seseorang yang melamar di SMK TEUKU UMAR harus berkewarganegaraan indonesia. dapat dibuktikan dengan memiliki kartu tanda penduduk indonesia.
b)        Beragama islam, seseorang yang melamar di SMK TEUKU UMAR harus beragama islam, karena SMK TEUKU UMAR memiliki basic islam, sehingga para siswa dan pengajar putri  yang belajar dan mengajar disana harus memakai kerudung dan memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang muslimah.
c)         Berpendidikan minimal S1, seseorang yang melamar di SMK TEUKU UMAR sebagai pengajar harus memiliki ijazah S1, dan sesuai dengan bidang yang dibutuhkan.
d)        Sehat jasmani dan rohani, seseorang yang melamar di SMK TEUKU UMAR harus memiliki kesehatan jasmani dan rohani.
Cara melamar di SMK TEUKU UMAR :
a)         Setiap pelamar harus mengajukan lamaran yang ditulis dengan tulisan tangan sendiri yang ditujukan kepada sekolah yang dituju, karena SMK TEUKU UMAR terdiri dari tiga instansi, yakni SMP, SMA, SMK. Dan harus disertai lampiran-lampiran:
1)        Daftar Riwayat Hidup
2)        Foto copy ijazah yang telah disahkan oleh pejabat yang berwajib, saperti kepala sekolah.
3)        Surat keterangan sehat dari dokter.
4)        Pas foto
5)        Surat keterangan / bukti lainya sesuai dengan syarat – syarat yang telah ditentukan.
b)        Setelah surat lamaran sampai di instansi terkait, surat lamaran akan di ajukan lagi ke pihak yayasan, dan dilakukuan rapat yayasan yang didalamnya akan menentukan diterima atau tidaknya pelamar tersebut.
c)         Setelah pihak yayasan memutuskan bahwa pelamar tersebut diterima, maka pihak sekolah akan memanggil si pelamar untuk diwawancarai.
d)        Setelah terjadi kesepakatan, maka kerjasama antara keduanya bisa bisa dilakukan.
B.     PENGORGANISASIAN
1.        Penentuan, Penempatan pegawai atau personel
Agar para personel di SMK TEUKU UMAR dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat guna, maka pihak sekolah menggunakan prinsip “ the right man on the right place”. jadi dalam penempatan pegawai SMK TEUKU UMAR sangat memperhatikan keahlian, latar belakang pendidikan, dan pengalaman. Sehingga tidak akan terjadi pangangguran tidak ketara, dan  antara pegawai satu dengan pegawai yang lain tidak akan terjadi adanya kesenjangan sosial dan kecemburuan sosial yang akan mengakibatkan ketidak kompakan antara personel atau pegawai.
2.        Pembinaan Pegawai
Dalam pembinaan pegawai SMK TEUKU UMAR menggunakan beberapa cara:
Pelatihan, pelatihan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan mutu dan kialitas guru dalam mengajar, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia.
C.    PENGGERAKAN
Sistem prestasi kerja adalah suatu sistem kepegawaian, dimana untuk pengangkatan seseorang dalam jabatan didasarkan atas kecakapan dan prestasi yang telah dicapainya. Dalam prestasi inilah mencerminkan sebuah keberhasilan dari penggerakan organisasi. Dan prestasi tersebut harus dibuktikan dengan suatu tanda lulus ijian jabatan, semisal surat pernyataan, piala, piagam, dll
 Prestasi kerja yang ada di SMK TEUKU UMAR dilakukan bilamana diakhir tahun ada salah satu anak didik disana memperoleh nilai sembilan keatas, maka seorang guru tersebut dianggap telah berhasil melakukan PBM. Keberhasilan guru dalam mengajar dapat menjadikan siswa yang berkompeten. Beberapa kejuaraan yang tilah dicapai SMK TEUKU UMAR
program keahlian akuntansi
1.        juara III lomba akuntansi tingkat jawa tengah tahun 2006
2.        juara II lomba pks akuntansi tingkat kota semarang tahun 2006
3.        juara II lomba pks akuntansi tingkat karesidenan tahun 2006
program keahlian penjualan
1.        Juara II lomba pks penjualan tingkat kota semarang tahun 2006
2.        Juara II lomba pks penjualan tingkat karesidenan tahun 2006
3.        Juara harapan I lomba pks tingkat kota semarang tahun 2007
program keahlian adm. perkantoran
Juara harapan I lomba pks adm. perkantoran tingkat kota semarang tahun 2007
prestasi yang pernah diraih oleh smk teuku umar
pada tahun 2006 s.d. 2007
·           juara II lomba jurnalistik tingkat kota semarang tahun 2007
·           juara lomba cerdas cermat tingkat kecamatan tahun 2007
Unit produksi dan jasa (unipro) yang dimiliki oleh SMK Teuku Umar Semarang program keahlian akuntansi
·           bank mini
·           jasa foto copy
Program keahlian penjualan toko koperasi siswa ( hidayah ) program keahlian adm. perkantoran
·           wartel
·           jasa percetakan
D.    SUPERVISI
Supervisi adalah kebijaksanaan sekolah dalam melakukan kegiatan perbaikan personalia guna memperbaiki kinerja sehinggga tujuan dapat tercapai.
Pengembangan Personel
Pengembangan personel perlu dilakukan untuk menjadikan proses belajar mengajar yang aktif dan bisa menjadikan seorang peserta dididk menjadi lebih nyaman dalam PBM. Pengembangan personel yang dilakukan oleh SMK TEUKU UMAR:
a)        Seminar, untuk mengembangkan kualitas para personelnya SMK TEUKU UMAR selalu mengikuti seminar – seminar yang ada, misalkan seminar nasional,
b)        Workshop, selain mengikuti seminar – seminar yang ada, SMK TEUKU UMAR juga selalu  mengikuti workshop sebagai salah satu cara untuk mengembangkan mutu dan kualitas para personelnya.
c)        MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
MGMP merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk mengembangkan mutu dan kualitas guru di Indonesia, dan dengan diadakanya MGMP diharapkan para guru mampu mengembangkan kreatifitasnya dalam mengajar.
E.     CONTROLING
Controling bertujuan agar pelaksanaan kebijakan sesuai dengan recana awal sebuah organisasi.
1.        Penilaian Pelaksanaan  Pekerjaan
Penilaian pelaksanaan pekerjaan dapat diukur dengan
a)        Kesetiaan, adalah kesetiaan, ketaatan, dan pengabdian. Jadi seorang pengajar di SMK TEUKU UMAR harus mengabdi kepada SMK TEUKU UMAR.
b)        Prestasi kerja. Adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas yang dinenankan kepadanya.
c)        Tanggung Jawab, adalah kesanggupan seorang untuk menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik – baiknya.
Penilaian pelaksanaan pekerjaan di SMK TEUKU UMAR dilakukan di akhir tahun pada saat pengambilan nilai akhir.
2.        Pemberhentian
Pemberhentian dilakukan bila mana seseorang yang bekrja di SMK TEUKU UMAR melakukan kesalahan, seperti:
a)        Berperilaku melanggar UUD 1945
b)        Melanggar tata tertib SMK TEUKU UMAR
c)        Tidak mencerminkan seorang guru