Friday, 20 March 2015

DANAU BLINGOH JEPARA

Danau Baru di Blingoh Kabupaten Jepara


Sedikit aku akan bercerita pengalaman jalan-jalan berdua dengan temanku Atik. Hari itu berbekal hari libur Imlek tahun ini kami memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang tidak kami ketahui pasti. Berdasarkan informasi dari TV yang sempat aku lihat kemarin, bahwa ada danau baru yang ada di Desa Blingoh Kecamatan Donorejo, Kabupaten Jepara. Secara kami berdua ini sering ngetrip bareng cuma berdua doang, akhirnya pagi itu kami memutuskan untuk berangkat.Seperti biasa, Atik mengulur waktu hingga kita berangkat jam 9 pagi,,, (dalam hati itu siang banget rek).

Berhubung kami belum tahu pasti dimana lokasi dari danau itu, kami memutuskan untuk membuka sedikit informasi tentunya dari mbah google. Sebenarnya ada dua alternatif jika menuju ke Kecamatan Donorejo, rute pertama dapat lewat jalan Pati-Tayu dan yang kedua lewat Jepara. Namun kita lebih memutuskan lewat arah Jepara Kota. Perjalanan dimulai dari Dawe (rumahnye Atik). Kita melewati jalur tengah, yaitu Dawe-Gebog-Nulamsari-Mayong hingga sampailah kita pada suatu tempat yang hujan. Kita kehujanan saat mulai memasuki wilayah Kecamatan Pecangaan, kami memutuskan untuk mulai memakai jas hujan. Berhubung kita berhenti pas di pos polisi, akhirnya kita nanya deh, Kecamatan Donorejo di mana?.

Lanjut, sepanjang perjalanan hujan saat deras, namun berhubung kami cuma berdua dan cewek pula, kami memutuskan untuk tetap berjalan pelan. Sampailah kita pada titik ketidaktahuan mau berjalan ke arah mana, kita berhenti sebentar dan menunggu informasi dari kawan yang sudah pernah ke danau itu.
si putih yang kehujanan
Sampai kita memiliki informasi yang cukup, kami memutuskan untuk lanjut. Kita harus menuju ke arah objek wisata Benteng Portugis, melewati jalan hutan yang sepi sangat jauh. Akhirnya sampailah kita di plang objek wisata Benteng Portugis, berhenti isi bensin dan bertanya. Jalan memasuki wilayah itu, tidak begitu baik. Dan hal yang paling penting kita harus dan kudu tanya-tanya terus, karena tempat yang di tuju jalannya ribet. Bagaimana tidak memasuki jalan desa, beberapa meter bertemu perempatan, belum berjalan jauh ketemu perempatan lagi, muter-muter tidak karuan. Akhirnya sampai pada suatu jalan yang di tutup, kami akhirnya bertanya pada pemuda sekitar sana dan untungnya kami bisa sampai ke tempat tujuan. Foto-foto cek this out...

kakiku basah kuyuk kehujanan sepanjang hari 

Oh iya sedikit informasi jalannya sangat licin dan terjal. Tiket masuk sekitar 5 ribu untuk satu motor, dan tenang saja sewaktu memasuki objek banyak pemuda desa yang berjaga-jaga dan diberi garis polisi pada pinggir danau.

ini dia kami bolangers

Sedikit cerita saja, danau ini terbentuk bukan karena kejadian alam entah itu gunung melutus atau apa lah itu guys. sebenarnya danau ini dulunya adalah bekas penambangan padas warga sekitar, namun ketika memasuki musim hujan akhirnya terisi oleh air hujan dan karena ini padas mungkin air sulit untuk meresap (kayaknya si gitu,, hahaha). Yang sangat menjadikan tempat ini menarik adalah sisa penambangan padas seperti yang dibelakang kami itu, dan tentunya air danau yang berwarna biru susu itu.
siap lepas landas,,, hahaha
Sebenarnya yang menjadi titik hal yang sangat kami ingat adalah jalan yang muter-muter waktu pulang. Sebenarnya kita belum keluar dari desa itu, secara jalan yang kami maksud sedari tadi itu muter-muter. Bisa berangkat dan sampai tujuan belum tentu pulangnya tahu jalan, begitu. Karena banyak perempatan dan pertigaan kita berdua sedari tadi hanya muter-muter. Dan yang paling mengagetkan dijalan pulang, kita melewati sebuah masjid desa namun beberapa saat kemudia kita melewati masjid itu dengan arah yang sama. Gimana tuh? pusing pala barbie. Tanya sana-tanya sini akhirnya bisa keluar dari labirin desa itu. Kita keluar pas dijalan puskesmas Kelet.

Galeri Foto Lain



Salam Bolangers, Jaga Lingkungan Guys



Thursday, 19 March 2015

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN (2050 mdpl)

MENUJU PUNCAK UNGARAN 

aku ingin sedikit cerita perihal pendakian ke salah satu spot gunung di Semarang, yaitu gunung Ungaran. Awalnya dari ketidaksengajaan, berhubung hari itu Sabtu dan pada hari Minggu aku libur PPL maka iseng temen-temen kos main ke Ungaran. Berbekal tas berisi bekal seadanya (roti, air mineral, dan tentunya mie) seperangkat tenda dkk, kami berangkat sekitar jam 5 sore dari Unnes Gunungpati. Kami terdiri dari beberapa orang, perempuannya adalah kami berlima (mb Miski, Xadong, Intan, Tami dan tentunya aku).

Sampai di pos pertama atau yang sering kami sebut pos mawar, kita parkir motor dan membayar biaya pendakian. Sekitar Isya' kami mulai pendakian menuju ke kebun teh atau sekitar desa Promasan. Karena pendakian dilakukan malam hari, praktis tidak ada yang terlihat kecuali gelap, namun jangan khawatir berhubung malam ini adalah malam minggu tentunya pendakian cukup ramai dengan banyak pendaki dari luar Semarang. Beberapa kali kami saling salip dengan pendaki lain, oh iya pendakian ke Ungaran ini adalah pendakian pertamaku. Berkat kompor Intan, kami berempat entah kenapa ikut dengan kebiasaan manjat gunung ini. Kami sempat berhenti disebuah spot kolam air untuk mengisi cadangan air minum kami untuk masak di kebun teh nanti.

dari atas Intan, aku, mb Miski, dan murid PPL Intan

Kira-kira sekitar jam 10 malam kami sampai di tempat yang kami maksudkan untuk mendirikan tenda, yaitu di kebun teh yang luas. Sebenarnya ada alternatif bagi pedaki yang tidak memakai tenda atau bekal pendakian, di kebun teh terdapat desa kecil yang kerap disebut para pendaki Desa Promasan. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami mendirikan tenda, berhubung jalur pendakian puncak Ungaran melewati tempat kami mendirikan tenda, jadi akan bolak-balik jika kami ke Desa Promasan. Usai mendirikan tenda (para cowok) yang cewek kebagian buat masak menyiapkan makanan. Berhubung masih jam 10an, kami memutuskan untuk istirahat sebelum nanti jam 2 pagi mulai pendakian ke puncak.

ini adalah tenda kami

Akhirnya pukul 2 pagi kami mulai pendakian ke puncak, para perempuan yang awalnya berjumlah 5 orang, mendadak menjadi 4 orang (berhubung mb. Miski  milih molor ketimbang menuju puncak). Jalan trek menuju ke Ungaran dapat dikatakan cukup terjal, jalan terdiri dari padas dan batuan yang cukup besar dan curam. Di tengah perjalanan kami sempat menemui batu yang cukup besar dan tinggi untuk di daki. Namun apalah itu puncak sudah menanti, keinginan kami untuk melihat sunrise sudah tidak bisa dibendung lagi. Sekitar pukul 4 lebih akhirnya kami sampai di puncak Ungaran yang ternyata sangat ramai. Ini dia yang bisa dilihat dari puncak Ungaran.

ini adalah pemandangan dari puncak Ungaran


ini adalah kami berempat (aku, Intan, Xadong, dan Tami)

dan ini kami semua (kecuali yang pada tidur di tenda, hahaha)

Salam para Pendaki, Lestarikan Gunung dan Jangan Dikotori Guys....

Friday, 6 February 2015

Pendidikan Diri Sendiri Bagi Siswa



PENTINGNYA
MENJADI DIRI SENDIRI BAGI SISWA
(oleh: Arum Pakar)

Aku selalu berpikir ada kesalahan dalam diriku yang sampai sekarang membuatku kurang bisa menerima berjalannya dunia. Pernah sesekali menangis karena tidak mengerti diri sendiri. Sebagai orang yang kini berusia 22 tahun, aku punya mimpi untuk menjalani hidup sebagaimana keinginanku. Tapi tak berjalan sebagaimana kuinginanku. Dulu saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar, banyak mimpi-mimpi yang kugantungkan. Aku ingin jadi dokter, polisi, olahragawan, hingga seorang pengajar. Aku tidak berpikir tentang kemampuanku di saat aku kecil. Dan sekarang aku berpikir, dari dulu ada yang mengarahkanku pada keinginanku itu pastilah berbeda ceritanya. Sebuah kata yang terucap dariku saat sekarang aku dewasa. Arahan dan bimbingan yang kumaksud adalah tentang bagaimana mewujudkan cita-cita yang dari kecil kita impikan agar menjadi kenyataan. Setiap anak tidak mendambakan hidup dengan keinginannya yang besar tetapi juga kebahagian ketika menjalankan impiannya itu. Ketika mereka dewasa, bukan soal materi tapi tentang keinginan hidup yang menyenangkan. Hal yang menurutku kurang aku dapatkan. Bisa dikatakan hampir 13 tahun aku sekolah, dan masa yang paling menyenangkan tentulah masa sekolah dasar. Di masa sekolah dasar adalah awal kita sebagai anak kecil belajar menerima dan menjadi diri sendiri.
Menjadi diri sendiri adalah  hal yang sangat penting agar anak tahu apa keinginannya. Pendidikan sangat berperan dalam mewujudkan seorang anak mengenal dirinya, kemapuannya, dan bagaimana ia mencapai keinginan yang didambakannya. Tentang siapa dirinya, siapa orang lain, dan mengapa kita berbeda-beda namun kita diseragamkan? Pikiran-pikiran anak kecil yang seharusnya bisa dijelaskan oleh guru. Tentang bagaimana anak dapat mengatakan dan berterus terang tentang apa yang dia rasakan dan dia inginkan. Ini adalah titik yang membuatku ingin menjadi pengajar. Dalam pendidikan, aku ingin seorang anak berterus terang tentang pikiran-pikirannya, menyatakan suatu hari nanti ingin jadi apa, melakukan hal-hal bahagia seperti keinginan dirinya. Konsep menjadi diri mengajarkan kepada anak tentang siapa dirinya, keinginan-keinginannya, dan kebahagianya. Begaimana seorang anak dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan. Bagaimana pengajar dapat mengarahkan, membimbing, dan menyediakan akses untuk seorang anak mengekspresikan tentang dirinya. Berlaku dan sadar bahwa dia dan temannya memiliki hal yang berbeda. Melalui ini dia akan mengerti dan mencoba mengerjakan setiap hal sesuai diri mereka sendiri.
Menjadi diri sendiri, seorang anak membutuhkan bimbingan agar mengetahui sejauh mana mereka terhadap batasan-batasan yang ada. Memberikan arahan bahwa menjadi diri sendiri sekalipun bebas mengekspresikan diri sendiri bukan berarti menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Sebagai pengajar kita wajib memberikan batasan menjadi diri sendiri tanpa merugikan atau menyakiti orang lain. Kita berikan batasan berupa nilai dan norma dalam diri mereka sendiri. Nilai dan norma yang meskipun tidak dalam bentuk aturan, tapi mereka punya nilai dan norma dalam diri mereka. Tentang bagaimana kita menerangkan bahwa sekalipun menjadi diri sendiri, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menghormati orang lain dengan batasan-batasan yang ada.
Sebagai pengajar, kita akan mendengar apa yang anak-anak rasakan, apa yang mereka inginkan, dan melihat bagaimana mereka mengekspresikan diri mereka yang berbeda-beda tersebut yang mungkin dulu sulit aku lakukan. Itu yang membuatku bersemangat menjadi pengajar. Hal yang membuatku sadar bahwa anak-anak hanya ingin menjadi diri mereka sendiri layaknya anak-anak yang bahagia. Kita bisa menuntun mereka menjadi orang yang lebih baik dna bahagia dengan menjadi diri mereka sendiri dan menghargai keingingan orang lain yang juga ingin menjadi mereka sendiri.

Sunday, 25 January 2015

WADUK GEMBONG PATI HINGGA PANTAI BANDENGAN JEPARA

WADUK GEMBONG PATI HINGGA PANTAI BANDENGAN JEPARA

Salam mbolang, salam gopro, salam tripper,,,,,

Awalnya hari itu gue bingung mau kemana, destinasi awal adalah daerah Purwodadi Grobogan. Tapi karena babe merekomendasikan nih waduk, kita berangkat saja. Gue berangkat ke destinasi cuma berdua (kebiasaan nggak mau ngetrip dengan banyak orang,, rempong) bareng bli Sigid. Akhirnya kita berangkat pagi, niatnya biar bisa muterin Kabupaten Pati lebih dalam lagi.

Awalnya gue sendiri nggak tahu letak waduk ini, gue hanya jalan keluar menuju ke pusat kota Pati hingga memasuki area traffic line dengan papan penunjuk jalan Tlogowungu, Gembong dkk. Kita belok saja ke panah penunjuk Gembong, awalnya jalan sangat mulus lurus saja. Sampai pada plang sangat kecil menunjukkan arah Waduk Gembong, kita belok aja tuh. Hampir sekitar 10 menit, kita mulai memasuki daerah perkampungan dan sialnya jalan baru diperbaiki dan beceknya minta ampun. Hingga samar-samar gue ngeliat air,,,, kagetnya minta ampun, tempatnya sepi kayak kuburan penuh air. Udah jauh-jauh ke sini nanggung kalau nggak turun, kita turun dan liat-liat bentar.

Ini adalah penampakan dari waduknya. sampai disana gue masih bingung secara di daerah Gembong Pati terdapat dua Waduk, yaitu Waduk Seloromo dan Waduk Gunung Rowo. Sebenarnya waduk apa yang sekarang ini lagi gue liat, mungkin Waduk Gunung Rowo kali ya...

Bli Sigid, pemandangan dari waduk ini cukup indah. Di sebelah utara terlihat sangat jelas pegunungan Muria yang menawan dengan ketiga puncaknya. Karena gue lihat jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, dan kita cuma liat ni waduk mulai muncul ide gila. Secara Kabupaten Pati nggak punya destinasi wisata yang cukup keren kita memutuskan pergi ke Kabupaten Jepara.

Kita akhirnya membelah Kabupaten Kudus lewat jalur tengah, dari Gembong kita ke Barat hingga sampai di Kecamatan Dawe, Kudus. Dilanjutkan menembus daerah perkotaan Kudus, dari Simpang Tujuh kita terus ke Barat menuju Kabupaten Jepara. Seperti biasa kita gopro tanpa tahu dimana letak sebenarnya dari Pantai Bandengan, kita pakai feelling doang dengan bantuan plang penunjuk arah. Hingga kita sampai pada gapura selamat datang di Kabupaten Jepara, sudah hampir 5 gapura dengan kata-kata seperti itu dan kita nggak nyampe-nyampe juga di Pantai Bandengan, kita mampir dulu tuh ke SPBU ngisi motor.

Akhirnya kita cukup beruntung bertemu dengan rombongan mobil bak terbuka (feelling kayaknya mau ke Pantai Bandengan). Maklum hari itu adalah hari libur nasional, jadi kalau ada mobil bak terbuka dipenuhi ibuk2 artinya mau liburan gitu aja. Dan benar juga kite sampai pada destinasi... Welcome to Bandengan Beach Jepara.

Sebenarnya Pantai Bandengan nama aslinya adalah Pantai Tirto Samodra, tapi lebih familiar disebut Pantai Bandengan sama orang Jawa Tengah. Pantainya berpasir putih, namun sayang sekali sewaktu gue ke sana pantainya penuh lautan manusia (maklum hari libur). Gue nyesel karena nggak bisa menikmati Pantai semau gue, jadi gue putusin nggak ke pantainya tapi jalan di sebelah Timur yang banyak karangnya. Tuh kayak poto di atas, gue nggak motret pantainya, nggak indah banget lah pokoknya banyak orang lagi berenang, anak-anak, gue jadi males.

Sorry yang punya Blog numpang nampang sama Bli Sigid (hehehe)

Salam mbolang, salam gopro, salam tripper,,,,,

WELCOME CARUBAN BEACH REMBANG

PANTAI CARUBAN REMBANG

Salah satu tempat favorit gue saat pergi ngetrip adalah tempat ini yaitu Pantai Caruban di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Pantai Caruban terletak di Kecamatan Lasem, jika ingin menuju ke sana mudah saja. Kita hanya perlu melewati jalur pantura Rembang, tinggal lihat di kiri jalan ada papan penunjuk arah ke Pantai Caruban.
Seperti biasa, awalnya gue sama temen gue niat mau ke pantai, sekalipun nggak tahu pantai apa yang penting pantai aja namanya. Beruntung disepanjang perjalanan, sudah terlihat daerah pantai, maklum Kabupaten Rembang terkenal dengan Pantai Kartini, tapi kita nggak mau ke tempat ramai. Akhirnya kita mutusin buat belok ke arah pantai apa saja yang penting terlihat sepi, hingga sampailah kita melihat papan penunjuk Pantai Caruban.
Jika diperhatikan dengan seksama, Pantai Caruban adalah salah satu pantai terindah di Pantura Jawa. Gimana enggak, tempatnya sepi banget, kalau di sana lo bakal merasa nih pantai kayak punya kita sendiri. Langit yang biru, angin sepoi-sepoi duh it's great places. Lihat aja ni penampakan pantainya.

noh ada gue yang jalan sendirian, berasa milik sendiri nggak tuh pantai

Ketika mulai memasuki Pantai Caruban, kita cuma bayar parkir doang yaitu 2000 rupiah dan nggak ada bayar-bayar tiket masuk. Kurang apa coba, pantai sepi, keren, gratis pula masuknya. Hampir satu jam an gue nongkrong muterin tuh pantai sama temen gue. nih beberapa potonya gue share dah...

Salam Mbolang Kawan........



Saturday, 24 January 2015

AIR TERJUN TRETES PATI (HILANG)

Hilang Mencari Air Terjun Tretes Pati
Gue mau curhat alias cerita tentang kebodohan nge-trip kemarin selasa, tepatnya tanggal 20 Januari 2014. Bagaimana nggak gila, muter-muter Kabupaten Pati dari kota hingga tempat tak terjamah. Hari itu, gue rencananya sama temen gue si Atik noh mau mencari tempat refreshing yang indah. Jadi pukul 8 pagi kite meluncur dari Kota Kudus tercinta. Dengan rasa penuh tidak percaya alias mbolang hanya berbekal GPS kite ke tempat yang nggak tahu bakal ketemu atau tidak. Awalnya semua berjalan sesuai rencana. Berhubung rumah Atik di daerah Dawe, kite mutusin untuk menuju Pati lewat jalur tengah, sampai kite berhenti di daerah Gembong. Awalnya kita udah nyasar sewaktu salah jalan, yang harusnya lurus, kita malah belok lewat pasar Gembong. Nggak nanggung-nanggung kalau gue perkiraan, sekitar 2 kilometer ada kali ya kita nyasar. Waktu itu kite masih santai-santai saja sepanjang jalan.

Lalu sampailah kita di depan tempat wisata tulisannya Sendang Sani, kite sempat dua kali muter-muter di satu jalan itu. Sampai akhirnya gue sadar, bensin motor udah mentok dan nggak ada SPBU disekitar tempat itu, akhirnya gue beli eceran harganya satu liter 7500 rupiah (muke gile) padahal harga premium udah turun jadi 6600. Lalu kite nanya tuh sama ibu penjual bensin, dimana letak air terjun tretes itu. Habis dapat jawaban, kite melongo nggak karuan mau lanjut atau tidak. Gimana nggak coba, ibunya bilang air terjun tretes itu masih sangat jauh (oooooooooo), dan letaknya di dalam hutan, kalau nggak sama cowok katanya jangan coz serem. Iya memang, kalau gue nge-trip sama Atik bawaannya pengin ngebolang berdua, kite udah prend, kadang ilang berdua (pekok e). Balik... 
Karena kita tujuannya air terjun tretes, akhirnya kita tidak belok atau sekedar liat wisata sendang sani tersebut. Kita lanjut saja nyari air terjun tretes.


Berbekal GPS kita lanjut gopro, sampai kita sampai di Kecamatan Tlogowungu. Muter-muter deh tu kita udah kayak orang gila aja, Trus lewat jalur Tayu-Pati, jauh banget sampai lewat Bumi Perkemahan Regaloh lah, Hingga akhirnya kita kesasar entah dimana.... Hal yang sama sekali nggak bisa gue jelasin. Membuat kita balik ke Tlogowungu dan nanya ke orang-orang. Waktu itu gue udah putus seasa-asanya,,hehehe.. berhubung sudah hampir 3 jam kite muter-muter kagak nemu-nemu apa yang menjadi maksud hati (idih..bahasanya).

Lalu sampailah kita didesa Gunungsari, kita nanya ke mbak-mbak dijalan. Karena merasa mumet dan udah bingung nggak kepalang, gue berniat mengganti destinasi ke Air Terjun Grenjengan Sewu yang ada di Gunung Wungkal. Dan ternyata............. hooooooooooooooooooo, itu lebih jauh, kita sampai di hutan, hawanya sejuk tapi lumayan dingin. Jalannya sepi minta ampun dan jeleknya nggak ketulungan (duh,,,). Kita ketemu lagi sama mas-mas yang bawa mobil bak terbuka, kite nanya lagi deh dimana letak Gunung Wungkal. Masih kesana, masih jauh jawaban yang hampir sama. Kita hanya mikir gimana biar kita nggak pulang dengan tangan kosong tanpa selembar poto di tangan.

Awalnya dengan jalan yang jelek kita masih toleransi lanjut, makin ke atas (maksudnya jalannya nanjak dan sempit) jalan makin nggak karuan dan bikin kita panik. Hingga sampai di sebuah rumah yang buka toko (pikir gue sama atik, ada aja orang yang mau tinggal di tempat terpencil sejauh ini dari kota). Kiri kanan kulihat saja jalan makin nggak mulus (nyanyi deh), kita nanya ke bapaknya, air terjun tretes dimana? (kita udah putus asa nggak ke Grenjengan Sewu, kejauhan). "Kelewat mbak, tadi di sana" lha...... kelewat.. akhirnya kita turun lagi sama mas-mas sales yang lagi nyetor barang ke tokonya si bapak. Ditunjukkin deh tuh jalan kalau mau sampai ke air terjun tretes.

krik..krik..krik... Sepinya itu lho nggak nahan, kita berdua celingak-celinguk. Gimana nih? Gimana? berhubung sangat sepi dan kite berdua cewek dan nggak ada tempat buat nitipin motor, maka kita urungkan saja niatnya buat ke air terjun tretes. Kita cuma tahu sampai jalan setapak menuju ke sana, kecewanya nggak ketulungan rek. Nih poto jalan setapaknya, gue ambil dari web orang.


pulang deh kite ke Kudus

Wednesday, 21 January 2015

CURUG LAWE- SEMARANG yang AWESOME

CURUG LAWE- SEMARANG

Sedikit kali ini gue mau review salah satu keindahan alam kota Semarang yang tersembunyi yaitu Curug Lawe. Pertama kali gue ke Curug Lawe tanggal 22 Mei 2014, sudah cukup lama tapi baru direview... maklum orangnya sibuk... hehehe..

OK, pada hari itu gara-gara pusing mikirin skripsi yang di phpin sama bu Dosbing tercinta, gue memutuskan untuk pergi ke sana. Berbekal plang petunjuk di jalan, aku dan temanku, mb Trie berangkat dari kos2an. Waktu tempuh ke area parkir Curug Lawe tidak terlalu jauh dari kampus kami di UNNES Gunungpati Semarang. Kita hanya perlu lurus saja ke selatan melewati pom bensin, dan hingga sampai ke pertigaan Sumur Jurang. Lihat plang kalau ke kiri adalah Ungaran, kalau kanan ke Boja-Kendal. Kita ambil arah Boja alias belok ke kanan, hanya berjarak sekitar 100 meteran lah ada plang penunjuk Curug Lawe dan Curug Benowo. Ngomong-ngomong di area itu memang terdapat dua Curug yaitu Curug dibagian bawah Curug Lawe dan yang ada di bagian atas Curug Benowo. Tapi kita ke Curug Lawwe dulu aja kali ya....

Dari tempat parkir, kita cuma bayar 4 ribu per orang, cukup murah. Kemudia mulai jalan menyusuri jalan setapak,, setapak lho... cukup lama untuk menuju ke Curug Lawe, bisa aku katakan ya sekitar 1 jam lah. Diawali dengan medan yang cukup enak sepanjang aliran sungai. Ini lho


Hal yang mungkin gila ketika itu tempat parkir cuma ada satu motor, alias motor gue sendiri. Jadi bisa ditebak yang masuk hutan menuju curug Lawe suma gue dan temen gue seorang. Awalnya sempet salah jalan pas dihutan, gara-gara nggak ada papan petunjuk yang jelas. Tapi akhirnya balik lagi. Curug Lawe tergolong curug yang masih sangat alami dan sepi benget gaess mungkin karena gue ke sana pas hari-hari sibuk. Hal yang sampai sekarang gue suka yaitu liburan bukan dihari libur, wkwkwkwk.. Kembali..

Hingga kami memasuki hutan, tempatnya sunyi banget, sampai pada sebuah jembatan yang menurut gue horor... kalau lihat kebawah itu jurang gaees, jalannya mesti pelan-pelan soalnya jembatan sudah keropos, beberapa kayu sudah ada yang mulai copot. noh jembatannya, poto ini gue ambil saat gue ke curug Lawe dan Benowo untuk kedua kalinya,,, bareng dua temen gue. noh yang jalan berdua.


Kami sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat, memasuki kawasan hutan yang lebih dalam kita disambut oleh suara hewan yang nggak jelas gue nggak tahu apa namanya. dan agak gelap dan akhirnya kita sampai juga di Curug Lawe yang awesome...


Awesome nya banget, sebagai anak rantau yang sudah hampir 4 tahun di Semarang, gue baru sadar ada tempat sekeren ini di dekat gue... hehehe... Curug Lawe sangat dingin dan rimbun, letaknya yang di tengah hutan membuat sinar matahari nggak bisa tembus ke curug... awalnya cuma kami berdua yang jalan, ternyata dihutan kita disusul sama anak-anak SMA, nggak tahu lagi bolos kali ya... hahaha... Ok sekian petualangan penulis ketika main ke Curug Lawe ini, see you again Gaeessss....