Tuesday, 15 September 2015

MOTORAN KE BUMIJAWA

MOTORAN KE BUMIJAWA

aku dan si


Hari Raya Idul Fitri baru saja berkahir, mohon maaf lahir batin kawan. Sekarang aku akan menceritakan pengalaman perjalanan ke Bumijawa, Tegal.


Day 1

start mejobo-kudus kota-demak-semarang-kaliwungu kendal-batang-pekalongan-comal, petarukan pemalang-tegal-pangkah-slawi-lebaksiu-bumijawa

Hari itu tanggal 28 Juli aku mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan yang tinggal di salah satu desa di Kabupaten Tegal. Berhubung di Tegal lumayan banyak kenangan, jadi aku putuskan untuk ke sana. Waktu itu aku berencana pergi seorang diri dengan mengendarai si kecil, motor putihku. Namun, rencana berubah ketika aku ingat aku ingin sekali sampai ke rumah teman2 kuliah dulu. Akhirnya salah satu teman dari Kudus yang juga sekosan dulu, ikut denganku, dan kami pun berangkat ke Tegal berdua.

Pagi sekitar pukul 8 aku sudah siap, tas outdoor penuh baju, si kecil sudah fit, dan tentunya sebuah kado untuk pernikahan Mbak Eka. Aku memacu motor ke Kudus Kota untuk menjemput Tiara, dari kudus kami pun mampir ke kos di Semarang. Akhirnya perjalanan yang sesungguhnya kami mulai sekitar pukul 11 kurang. Berbekal GPS kami berangkat berdua menyusuri jalanan yang panas menyengat. Dan tidak lupa berdoa sebelum memulai perjalanan gila ini.

Setelah kami melewati Kendal, Batang, Pekalongan, sekitar pukul 2 kami sampai di Pemalang, tepatnya di Petarukan. Kami akhirnya memutuskan untuk mampir ke teman kos di sana, Zizah namanya. Kami dijemput di salah satu Masjid di Pantura Pemalang itu. Kami makan, dan bercerita sedikit setelah satu tahun kami tidak bertemu. Kegilaan masih ada diantara kami bertiga.

Lalu tepat ba’da asyar sehabis sholat asyar, kami lanjut menuju ke acara pernikahan. Aku tidak tahu entah sampai jam berapa kami di sana. Dengan penuh kepercayaan diri, aku pun mengebut si kecil agar kami tidak terlambat. Setelah muter-muter tak jelas, bertanya sana sini akhirnya ketemu juga rumah Mbak Eka. Kami pun bertemu dan berbincang sebentar dan melanjutkan ke Slawi, tepatnya Bumijawa. Berhubung malam mulai menjelang, aku pun mengebut si kecil agar kami tak kemalaman. Aku cukup tahu bahwa perjalanan kami ini masih cukup jauh. Magrib kami baru sampai ke Lebaksiu, dan kami tak tahu jalanan yang gelap itu.

Campur aduk rasanya, karena kami memang perempuan dua2nya. Di jalan kami pun saling kontak dengan tujuan kami yaitu Xadong dan Mbak Miski. Akhirnya kami janjian di salah satu toko di daerah Tuwel. Sebenarnya kami pun tidak tahu daerah Tuwel sebelah mana, kami agak kesulitan melihat nama di pinggiran jalan karena hari sudah gelap. Jalan mulai tak enak, jalan menukik ke atas, sempit, gelap, dan tentunya sedikit ngeri. Tapi berbekal kepercayaan, akhirnya kami sampai pada took yang di sebutkan itu. Kami pun bertemu dan makan malam di depan Puskesmas Bumijawa, kami berniat untuk menginap di rumah Xadong.

Day 2

Hari pertama di tegal kami mengunjungi salah satu destinasi wisata yang terkenal, yaitu pemandian air panas guci. siapa yang tidak tahu tempat ini, cukup puas sekitar hampir 3 jam kami berendam.

kami pun melanjutkan untuk sarapan. sekitar pukul 11, aku menuju ke sma tempat mb miski mengajar. akhirnya kita keliling bumijawa. sebenarnya aku akan diajak mb miski untuk ke salah satu embung di desa tersebut. malang sekali nasibku, karena sesampainya di sana, ternyata embung tengah dikuras dan dalam proses rehab. jadi hanya terlihat seperti kubangan becek. akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang.

Akhirnya si tiara sampai juga di rumah mb miski. cukup larut, sekitar jam 10 malam. ya, kami cukup sebal dengan tiara jadi kami bulli saja semalaman. haha

Day 3

Keesokan paginya, sekitar pukul 6 kami memutusan untuk jalan2 keliling desa. pas dapat spot bagus buat lihat gunung slamet, indah sekali. ya maklum saja, jarang2 lihat gunung segede ini.

Akhirnya aku dan tiara memutuskan untuk pulang ke semarang. sekitar pukul8 kami pamitan dengan mb miski beserta keluarga. seperti sewaktu datang, kami memilih jalur pantura. sampai di pemalang, kami memutuskan untuk mampir di salah satu pantai purwahamba indah. banyak yang berubah dari pantai ini, setahun yang lalu pantai ini indah, tapi sekarang pantai  pasir hitam bersampah. ya, begitulah.


Ok sekian perjalanan gila, 3 hari di jalan. salam bolangers, jaga kesehatan persiapan perjalanan agar selamat sampai tujuan. jangan lupa pulang ke rumah


Monday, 6 July 2015

PENDAKIAN PUNCAK ANDONG PEAK

PENDAKIAN ANDONG PEAK
 

Sudah lama sekali aku tidak menulis blog yang ini, maklum aku agak sibuk dengan blog sastra satunya lagi, arumpakarstory.blogspot.com. Ok, langsung saja kita cerita pengalaman saat aku mendaki di gunung Andong Magelang. Sebenarnya bukan gunung, lebih tepatnya lembah. Tapi kau tidak akan percaya bahwa pendakian Andong Peak ini terasa lumayan berat, medannya yang begitu luar biasa gilanya. Pertama kali aku perkenalkan kawan saat muncak di Andong Peak, namanya mas Gewol Bowo. Waktu itu sebenarnya tidak sengaja kami merencanakan ke Andong Peak, berhubung beberapa kali kami rencana tapi tak terealisasikan. Waktu itu iseng-iseng aku bbm, pengin banget kan muncak sebelum puasa,, hehehe. Akhirnya setelah banyak pikiran, malam itu langsung kita tentukan untuk berangkat siang harinya sekalipun hanya berdua. Hari itu hari Minggu kami berangkat dari Kudus sekitar pukul 2 siang, berbekal insting dan pemetaan jalur ke Magelang. Maklum kita berdua baru pertama juga muncak ke Andong Peak, namun akhirnya kita sampai juga di Pos Pendakian. Kali ini kami nyasar ke Pos Pendakian Sekar Arum Kembangan, tau deh gimana tracknya. Habis magrib tepat kami sampai di pos dan menyempatkan untuk sholat magrib, lalu regristrasi dan duduk2 bentar sambil nanya2 sama bapak2 di sana. Akhirnya habis isya' kami memutuskan untuk naik menuju puncak. Cuma kita saja yang waktu itu nanjak, namun ada beberapa rombongan yang baru datang ke pos pendakian. Berbekal senter, berangkat deh kita.

Belum apa2 di awal track kita disuguhi dengan tangga yang kemiringannya lumayan, mungkin 45 derajat ada kali ya. Aku sudah mulai ngos2an, tidak dapat dibayangkan track awal begini banget. Katanya naik Andong Peak cukup 1 jam, yang bener aja gila kali. Setelah ketemu dengan tangga tadi yang banyak kali, kita sampai di pos 1, tempatnya seperti gazebo dan tanah lapang seperti sering digunakan untuk berkemah. Lalu kami melanjutkan perjalanan, track sepanjang Andong Peak selalu nanjak, sulit untuk menemui track lurus dan datar. Udara sangat dingin, maklum ini musim kemarau. Sudah satu jam kami menyusuri track full tanjakan ini namun tidak bisa melihat puncak Andong. Beberapa lama aku mulai membenci track ini, maklum ini track kedua yang hampir membuatku putus asa melihat puncak setelah pendakian mengerikan ke Puncak Lawu, maklum full tanjakan tangga.

Ok, dua jam berlalu dengan penuh kegilaan. Aku merasa mulai lelah dan pikiranku sudah gila. Akhirnya aku berjalan di belakang dan mas Gewol di depan, beberapa kali aku istirahat (berasa udah tua). Hingga kami sampai pada sebuah tanjakan yang kami pikir itu puncak (hahaha... udah nggak waras) dan ternyata itu hanya tanah lapang yang sering di buat ngecamp para pendaki. Lalu puncaknya dimana??? entah lah. Kami berjalan terus-terus dan tiga jam berlalu, mas Gewol entah apa yang terjadi dia masuk angin (kali aja). kami pun sampai di sebuah tanah lapang lagi dan bisa melihat puncak, ini mungkin hampir satu jam buat sampai dan ngecamp di puncaknya. Tapi dia mulai muntah2 dan kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang. Kami bisa melihat orang2 yang sampai puncak, tapi mau apa lagi tidak bisa dipaksakan. Tenda pun berdiri dan siap2 masak, berhubung sudah lapar dan kedinginan. Lalu istirahat lah kita, agak sedikit pesimis jika mas Gewol tak pulih kita g bisa muncak.

Jam pun berlalu, sekitar pukul set 5 kami bangun, dengan pertanyaan "muncak gak?" awalnya aku yang pesimis, bagaimana tidak udara di luar saja seperti es. Tapi apalah arti dingin, sudah sampai sini masak nggak muncak (yang bener aje). Alhasil kita memutuskan untuk muncak, berbekal air dan sedikit cemilan, kami meninggalkan tenda berdiri menuju puncak. Entah dimana puncaknya yang jelas di sana ada banyak puncak, setelah mencari2 akhirnya sampai kita di puncak Andong Peak. Dan mari kita lihat indahnya pemandangan dari Andong Peak (hahaha)...

ini entah dari sebelah timur, itu sepertinya gunung telomoyo (sepertinya)
ini belakang ada gunung sumbing & sindoro
ini dia gunung merbabu yang gede dan sampingnya gunung merapi

nah, itu pengalamanku naik ke Andong Peak. Selamat mencoba track, kawan.

Friday, 20 March 2015

DANAU BLINGOH JEPARA

Danau Baru di Blingoh Kabupaten Jepara


Sedikit aku akan bercerita pengalaman jalan-jalan berdua dengan temanku Atik. Hari itu berbekal hari libur Imlek tahun ini kami memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang tidak kami ketahui pasti. Berdasarkan informasi dari TV yang sempat aku lihat kemarin, bahwa ada danau baru yang ada di Desa Blingoh Kecamatan Donorejo, Kabupaten Jepara. Secara kami berdua ini sering ngetrip bareng cuma berdua doang, akhirnya pagi itu kami memutuskan untuk berangkat.Seperti biasa, Atik mengulur waktu hingga kita berangkat jam 9 pagi,,, (dalam hati itu siang banget rek).

Berhubung kami belum tahu pasti dimana lokasi dari danau itu, kami memutuskan untuk membuka sedikit informasi tentunya dari mbah google. Sebenarnya ada dua alternatif jika menuju ke Kecamatan Donorejo, rute pertama dapat lewat jalan Pati-Tayu dan yang kedua lewat Jepara. Namun kita lebih memutuskan lewat arah Jepara Kota. Perjalanan dimulai dari Dawe (rumahnye Atik). Kita melewati jalur tengah, yaitu Dawe-Gebog-Nulamsari-Mayong hingga sampailah kita pada suatu tempat yang hujan. Kita kehujanan saat mulai memasuki wilayah Kecamatan Pecangaan, kami memutuskan untuk mulai memakai jas hujan. Berhubung kita berhenti pas di pos polisi, akhirnya kita nanya deh, Kecamatan Donorejo di mana?.

Lanjut, sepanjang perjalanan hujan saat deras, namun berhubung kami cuma berdua dan cewek pula, kami memutuskan untuk tetap berjalan pelan. Sampailah kita pada titik ketidaktahuan mau berjalan ke arah mana, kita berhenti sebentar dan menunggu informasi dari kawan yang sudah pernah ke danau itu.
si putih yang kehujanan
Sampai kita memiliki informasi yang cukup, kami memutuskan untuk lanjut. Kita harus menuju ke arah objek wisata Benteng Portugis, melewati jalan hutan yang sepi sangat jauh. Akhirnya sampailah kita di plang objek wisata Benteng Portugis, berhenti isi bensin dan bertanya. Jalan memasuki wilayah itu, tidak begitu baik. Dan hal yang paling penting kita harus dan kudu tanya-tanya terus, karena tempat yang di tuju jalannya ribet. Bagaimana tidak memasuki jalan desa, beberapa meter bertemu perempatan, belum berjalan jauh ketemu perempatan lagi, muter-muter tidak karuan. Akhirnya sampai pada suatu jalan yang di tutup, kami akhirnya bertanya pada pemuda sekitar sana dan untungnya kami bisa sampai ke tempat tujuan. Foto-foto cek this out...

kakiku basah kuyuk kehujanan sepanjang hari 

Oh iya sedikit informasi jalannya sangat licin dan terjal. Tiket masuk sekitar 5 ribu untuk satu motor, dan tenang saja sewaktu memasuki objek banyak pemuda desa yang berjaga-jaga dan diberi garis polisi pada pinggir danau.

ini dia kami bolangers

Sedikit cerita saja, danau ini terbentuk bukan karena kejadian alam entah itu gunung melutus atau apa lah itu guys. sebenarnya danau ini dulunya adalah bekas penambangan padas warga sekitar, namun ketika memasuki musim hujan akhirnya terisi oleh air hujan dan karena ini padas mungkin air sulit untuk meresap (kayaknya si gitu,, hahaha). Yang sangat menjadikan tempat ini menarik adalah sisa penambangan padas seperti yang dibelakang kami itu, dan tentunya air danau yang berwarna biru susu itu.
siap lepas landas,,, hahaha
Sebenarnya yang menjadi titik hal yang sangat kami ingat adalah jalan yang muter-muter waktu pulang. Sebenarnya kita belum keluar dari desa itu, secara jalan yang kami maksud sedari tadi itu muter-muter. Bisa berangkat dan sampai tujuan belum tentu pulangnya tahu jalan, begitu. Karena banyak perempatan dan pertigaan kita berdua sedari tadi hanya muter-muter. Dan yang paling mengagetkan dijalan pulang, kita melewati sebuah masjid desa namun beberapa saat kemudia kita melewati masjid itu dengan arah yang sama. Gimana tuh? pusing pala barbie. Tanya sana-tanya sini akhirnya bisa keluar dari labirin desa itu. Kita keluar pas dijalan puskesmas Kelet.

Galeri Foto Lain



Salam Bolangers, Jaga Lingkungan Guys



Thursday, 19 March 2015

PENDAKIAN GUNUNG UNGARAN (2050 mdpl)

MENUJU PUNCAK UNGARAN 

aku ingin sedikit cerita perihal pendakian ke salah satu spot gunung di Semarang, yaitu gunung Ungaran. Awalnya dari ketidaksengajaan, berhubung hari itu Sabtu dan pada hari Minggu aku libur PPL maka iseng temen-temen kos main ke Ungaran. Berbekal tas berisi bekal seadanya (roti, air mineral, dan tentunya mie) seperangkat tenda dkk, kami berangkat sekitar jam 5 sore dari Unnes Gunungpati. Kami terdiri dari beberapa orang, perempuannya adalah kami berlima (mb Miski, Xadong, Intan, Tami dan tentunya aku).

Sampai di pos pertama atau yang sering kami sebut pos mawar, kita parkir motor dan membayar biaya pendakian. Sekitar Isya' kami mulai pendakian menuju ke kebun teh atau sekitar desa Promasan. Karena pendakian dilakukan malam hari, praktis tidak ada yang terlihat kecuali gelap, namun jangan khawatir berhubung malam ini adalah malam minggu tentunya pendakian cukup ramai dengan banyak pendaki dari luar Semarang. Beberapa kali kami saling salip dengan pendaki lain, oh iya pendakian ke Ungaran ini adalah pendakian pertamaku. Berkat kompor Intan, kami berempat entah kenapa ikut dengan kebiasaan manjat gunung ini. Kami sempat berhenti disebuah spot kolam air untuk mengisi cadangan air minum kami untuk masak di kebun teh nanti.

dari atas Intan, aku, mb Miski, dan murid PPL Intan

Kira-kira sekitar jam 10 malam kami sampai di tempat yang kami maksudkan untuk mendirikan tenda, yaitu di kebun teh yang luas. Sebenarnya ada alternatif bagi pedaki yang tidak memakai tenda atau bekal pendakian, di kebun teh terdapat desa kecil yang kerap disebut para pendaki Desa Promasan. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami mendirikan tenda, berhubung jalur pendakian puncak Ungaran melewati tempat kami mendirikan tenda, jadi akan bolak-balik jika kami ke Desa Promasan. Usai mendirikan tenda (para cowok) yang cewek kebagian buat masak menyiapkan makanan. Berhubung masih jam 10an, kami memutuskan untuk istirahat sebelum nanti jam 2 pagi mulai pendakian ke puncak.

ini adalah tenda kami

Akhirnya pukul 2 pagi kami mulai pendakian ke puncak, para perempuan yang awalnya berjumlah 5 orang, mendadak menjadi 4 orang (berhubung mb. Miski  milih molor ketimbang menuju puncak). Jalan trek menuju ke Ungaran dapat dikatakan cukup terjal, jalan terdiri dari padas dan batuan yang cukup besar dan curam. Di tengah perjalanan kami sempat menemui batu yang cukup besar dan tinggi untuk di daki. Namun apalah itu puncak sudah menanti, keinginan kami untuk melihat sunrise sudah tidak bisa dibendung lagi. Sekitar pukul 4 lebih akhirnya kami sampai di puncak Ungaran yang ternyata sangat ramai. Ini dia yang bisa dilihat dari puncak Ungaran.

ini adalah pemandangan dari puncak Ungaran


ini adalah kami berempat (aku, Intan, Xadong, dan Tami)

dan ini kami semua (kecuali yang pada tidur di tenda, hahaha)

Salam para Pendaki, Lestarikan Gunung dan Jangan Dikotori Guys....

Friday, 6 February 2015

Pendidikan Diri Sendiri Bagi Siswa



PENTINGNYA
MENJADI DIRI SENDIRI BAGI SISWA
(oleh: Arum Pakar)

Aku selalu berpikir ada kesalahan dalam diriku yang sampai sekarang membuatku kurang bisa menerima berjalannya dunia. Pernah sesekali menangis karena tidak mengerti diri sendiri. Sebagai orang yang kini berusia 22 tahun, aku punya mimpi untuk menjalani hidup sebagaimana keinginanku. Tapi tak berjalan sebagaimana kuinginanku. Dulu saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar, banyak mimpi-mimpi yang kugantungkan. Aku ingin jadi dokter, polisi, olahragawan, hingga seorang pengajar. Aku tidak berpikir tentang kemampuanku di saat aku kecil. Dan sekarang aku berpikir, dari dulu ada yang mengarahkanku pada keinginanku itu pastilah berbeda ceritanya. Sebuah kata yang terucap dariku saat sekarang aku dewasa. Arahan dan bimbingan yang kumaksud adalah tentang bagaimana mewujudkan cita-cita yang dari kecil kita impikan agar menjadi kenyataan. Setiap anak tidak mendambakan hidup dengan keinginannya yang besar tetapi juga kebahagian ketika menjalankan impiannya itu. Ketika mereka dewasa, bukan soal materi tapi tentang keinginan hidup yang menyenangkan. Hal yang menurutku kurang aku dapatkan. Bisa dikatakan hampir 13 tahun aku sekolah, dan masa yang paling menyenangkan tentulah masa sekolah dasar. Di masa sekolah dasar adalah awal kita sebagai anak kecil belajar menerima dan menjadi diri sendiri.
Menjadi diri sendiri adalah  hal yang sangat penting agar anak tahu apa keinginannya. Pendidikan sangat berperan dalam mewujudkan seorang anak mengenal dirinya, kemapuannya, dan bagaimana ia mencapai keinginan yang didambakannya. Tentang siapa dirinya, siapa orang lain, dan mengapa kita berbeda-beda namun kita diseragamkan? Pikiran-pikiran anak kecil yang seharusnya bisa dijelaskan oleh guru. Tentang bagaimana anak dapat mengatakan dan berterus terang tentang apa yang dia rasakan dan dia inginkan. Ini adalah titik yang membuatku ingin menjadi pengajar. Dalam pendidikan, aku ingin seorang anak berterus terang tentang pikiran-pikirannya, menyatakan suatu hari nanti ingin jadi apa, melakukan hal-hal bahagia seperti keinginan dirinya. Konsep menjadi diri mengajarkan kepada anak tentang siapa dirinya, keinginan-keinginannya, dan kebahagianya. Begaimana seorang anak dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan. Bagaimana pengajar dapat mengarahkan, membimbing, dan menyediakan akses untuk seorang anak mengekspresikan tentang dirinya. Berlaku dan sadar bahwa dia dan temannya memiliki hal yang berbeda. Melalui ini dia akan mengerti dan mencoba mengerjakan setiap hal sesuai diri mereka sendiri.
Menjadi diri sendiri, seorang anak membutuhkan bimbingan agar mengetahui sejauh mana mereka terhadap batasan-batasan yang ada. Memberikan arahan bahwa menjadi diri sendiri sekalipun bebas mengekspresikan diri sendiri bukan berarti menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Sebagai pengajar kita wajib memberikan batasan menjadi diri sendiri tanpa merugikan atau menyakiti orang lain. Kita berikan batasan berupa nilai dan norma dalam diri mereka sendiri. Nilai dan norma yang meskipun tidak dalam bentuk aturan, tapi mereka punya nilai dan norma dalam diri mereka. Tentang bagaimana kita menerangkan bahwa sekalipun menjadi diri sendiri, mereka mempunyai tanggung jawab untuk menghormati orang lain dengan batasan-batasan yang ada.
Sebagai pengajar, kita akan mendengar apa yang anak-anak rasakan, apa yang mereka inginkan, dan melihat bagaimana mereka mengekspresikan diri mereka yang berbeda-beda tersebut yang mungkin dulu sulit aku lakukan. Itu yang membuatku bersemangat menjadi pengajar. Hal yang membuatku sadar bahwa anak-anak hanya ingin menjadi diri mereka sendiri layaknya anak-anak yang bahagia. Kita bisa menuntun mereka menjadi orang yang lebih baik dna bahagia dengan menjadi diri mereka sendiri dan menghargai keingingan orang lain yang juga ingin menjadi mereka sendiri.

Sunday, 25 January 2015

WADUK GEMBONG PATI HINGGA PANTAI BANDENGAN JEPARA

WADUK GEMBONG PATI HINGGA PANTAI BANDENGAN JEPARA

Salam mbolang, salam gopro, salam tripper,,,,,

Awalnya hari itu gue bingung mau kemana, destinasi awal adalah daerah Purwodadi Grobogan. Tapi karena babe merekomendasikan nih waduk, kita berangkat saja. Gue berangkat ke destinasi cuma berdua (kebiasaan nggak mau ngetrip dengan banyak orang,, rempong) bareng bli Sigid. Akhirnya kita berangkat pagi, niatnya biar bisa muterin Kabupaten Pati lebih dalam lagi.

Awalnya gue sendiri nggak tahu letak waduk ini, gue hanya jalan keluar menuju ke pusat kota Pati hingga memasuki area traffic line dengan papan penunjuk jalan Tlogowungu, Gembong dkk. Kita belok saja ke panah penunjuk Gembong, awalnya jalan sangat mulus lurus saja. Sampai pada plang sangat kecil menunjukkan arah Waduk Gembong, kita belok aja tuh. Hampir sekitar 10 menit, kita mulai memasuki daerah perkampungan dan sialnya jalan baru diperbaiki dan beceknya minta ampun. Hingga samar-samar gue ngeliat air,,,, kagetnya minta ampun, tempatnya sepi kayak kuburan penuh air. Udah jauh-jauh ke sini nanggung kalau nggak turun, kita turun dan liat-liat bentar.

Ini adalah penampakan dari waduknya. sampai disana gue masih bingung secara di daerah Gembong Pati terdapat dua Waduk, yaitu Waduk Seloromo dan Waduk Gunung Rowo. Sebenarnya waduk apa yang sekarang ini lagi gue liat, mungkin Waduk Gunung Rowo kali ya...

Bli Sigid, pemandangan dari waduk ini cukup indah. Di sebelah utara terlihat sangat jelas pegunungan Muria yang menawan dengan ketiga puncaknya. Karena gue lihat jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, dan kita cuma liat ni waduk mulai muncul ide gila. Secara Kabupaten Pati nggak punya destinasi wisata yang cukup keren kita memutuskan pergi ke Kabupaten Jepara.

Kita akhirnya membelah Kabupaten Kudus lewat jalur tengah, dari Gembong kita ke Barat hingga sampai di Kecamatan Dawe, Kudus. Dilanjutkan menembus daerah perkotaan Kudus, dari Simpang Tujuh kita terus ke Barat menuju Kabupaten Jepara. Seperti biasa kita gopro tanpa tahu dimana letak sebenarnya dari Pantai Bandengan, kita pakai feelling doang dengan bantuan plang penunjuk arah. Hingga kita sampai pada gapura selamat datang di Kabupaten Jepara, sudah hampir 5 gapura dengan kata-kata seperti itu dan kita nggak nyampe-nyampe juga di Pantai Bandengan, kita mampir dulu tuh ke SPBU ngisi motor.

Akhirnya kita cukup beruntung bertemu dengan rombongan mobil bak terbuka (feelling kayaknya mau ke Pantai Bandengan). Maklum hari itu adalah hari libur nasional, jadi kalau ada mobil bak terbuka dipenuhi ibuk2 artinya mau liburan gitu aja. Dan benar juga kite sampai pada destinasi... Welcome to Bandengan Beach Jepara.

Sebenarnya Pantai Bandengan nama aslinya adalah Pantai Tirto Samodra, tapi lebih familiar disebut Pantai Bandengan sama orang Jawa Tengah. Pantainya berpasir putih, namun sayang sekali sewaktu gue ke sana pantainya penuh lautan manusia (maklum hari libur). Gue nyesel karena nggak bisa menikmati Pantai semau gue, jadi gue putusin nggak ke pantainya tapi jalan di sebelah Timur yang banyak karangnya. Tuh kayak poto di atas, gue nggak motret pantainya, nggak indah banget lah pokoknya banyak orang lagi berenang, anak-anak, gue jadi males.

Sorry yang punya Blog numpang nampang sama Bli Sigid (hehehe)

Salam mbolang, salam gopro, salam tripper,,,,,

WELCOME CARUBAN BEACH REMBANG

PANTAI CARUBAN REMBANG

Salah satu tempat favorit gue saat pergi ngetrip adalah tempat ini yaitu Pantai Caruban di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Pantai Caruban terletak di Kecamatan Lasem, jika ingin menuju ke sana mudah saja. Kita hanya perlu melewati jalur pantura Rembang, tinggal lihat di kiri jalan ada papan penunjuk arah ke Pantai Caruban.
Seperti biasa, awalnya gue sama temen gue niat mau ke pantai, sekalipun nggak tahu pantai apa yang penting pantai aja namanya. Beruntung disepanjang perjalanan, sudah terlihat daerah pantai, maklum Kabupaten Rembang terkenal dengan Pantai Kartini, tapi kita nggak mau ke tempat ramai. Akhirnya kita mutusin buat belok ke arah pantai apa saja yang penting terlihat sepi, hingga sampailah kita melihat papan penunjuk Pantai Caruban.
Jika diperhatikan dengan seksama, Pantai Caruban adalah salah satu pantai terindah di Pantura Jawa. Gimana enggak, tempatnya sepi banget, kalau di sana lo bakal merasa nih pantai kayak punya kita sendiri. Langit yang biru, angin sepoi-sepoi duh it's great places. Lihat aja ni penampakan pantainya.

noh ada gue yang jalan sendirian, berasa milik sendiri nggak tuh pantai

Ketika mulai memasuki Pantai Caruban, kita cuma bayar parkir doang yaitu 2000 rupiah dan nggak ada bayar-bayar tiket masuk. Kurang apa coba, pantai sepi, keren, gratis pula masuknya. Hampir satu jam an gue nongkrong muterin tuh pantai sama temen gue. nih beberapa potonya gue share dah...

Salam Mbolang Kawan........